ORGANISASI SOSIAL KEMASYARAKATAN
makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas
Sejarah Pergerakan Nasional
semester III
Dosen Pengampu : Drs. H. Jahdan Ibnu Humam Saleh. MS

Di Susun Oleh :
Sri Windari (12120004)
JURUSAN
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Organisasi sosial adalah
perkumpulan sosial yang
dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun
yang tidak berbadan hukum,
yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa
dan negara. Semua Organisasi sosial bertujuan untuk menanggulangi permasalahan
kesejahteraan sosial dan kemanusiaan di Indonesia bersama dengan pemerintah
dalam rangka melaksanakan usaha kesejahteraan sosial untuk mewujudkan
masyarakat adil dan makmur. Menurut Berelson dan Steiner(1964:55) sebuah
organisasi memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya Formalitas,
Hirarki, Besar dan Kompleksnya, dan
Lamanya (duration).
Pada
awal abad ke-20, pemimpin-pemimpin Indonesia sadar
bahwa perlawanan bersenjata tidak akan berhasil.Apalagi jika perlawanan itu
bersifat kedaerahan. Rasa persatuan dan kebangsaan mulai berkembang. Suku-suku
bangsa Indonesia sama-sama
menderita di bawah penjajahan. Penderitaan yang sama itu menimbulkan rasa
persatuan. Merekapun sadar bahwa mereka adalah satu bangsa, dan mempunyai satu tanah air.
B. Rumusan masalah
-
Jenis organisasi sosial
-
Latar belakang berdirinya organisasi sosial
-
Tujuan organisasi sosial
-
Faktor berakhirnya organisasi sosial
BAB II
PEMBAHASAN
1.
ORGANISASI SOSIAL KEMASYARAKATAN
Penjajahan Belanda tidak lagi di lawan dengan kekuatan senjata,
tetapi dengan kekuatan politik. Seluruh
rakyat diikutkan dalam perjuangan. Mereka berhimpun dalam berbagai organisasi. Berikut akan saya paparkan sekilas tentang
macam-macam organisasi sosial yang berdiri pada zaman pergerakan nasional.
Diantaranya yaitu Budi Utomo, Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama.
A.
Budi Utomo (20 Mei 1908)
a) Latar belakang
berdirinya Budi Utomo
Budi Utomo (Boedi Oetomo) didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh
sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen)
seperti Soetomo, Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T Ario Tirtokusumo.
Berdirinya Budi Utomo tak bisa lepas dari peran dr. Wahidin Sudirohusodo,
walaupun bukan pendiri Budi Utomo, namun beliaulah yang telah menginspirasi
Sutomo dan kawan-kawan untuk mendirikan organisasi pergerakan nasional ini.
Wahidin Sudirohusodo sendiri adalah seorang alumni STOVIA yang sering berkeliling
di kota-kota besar di Pulau Jawa untuk mengkampanyekan gagasannya mengenai
bantuan dana bagi pelajar-pelajar pribumi berprestasi yang tidak mampu
melanjutkan sekolah. Gagasan ini akhirnya beliau kemukakan kepada
pelajar-pelajar STOVIA di Jakarta, dan ternyata mereka menyambut baik gagasan
mengenai organisasi pendidikan tersebut. Tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei,
sampai sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional kerena organisasi
ini dianggap sebagai organisasi kebangsaan yang pertama.
Untuk merealisasikannya diperlukan pengajaran
bagi orang jawa agar mendapatkan kemajuan dan tidak dilupakan usaha
membangkitkan kembali kultur jawa; jadi antara tradisi, kultur dan edukasi
barat dikombinasikan (Suhartono, 1994 : 30).
b) Tujuan
berdirinya Budi Utomo
Sutomo mendeklarasikan
berdirinya organisasi Budi Utomo. Tujuan yang hendak dicapai dari
pendirian organisasi Budi Utomo tersebut antara lain:
- Memajukan pengajaran.
- Memajukan pertanian, peternakan dan
perdagangan.
- Memajukan teknik dan industri.
- Menghidupkan kembali kebudayaan.
Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan
kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang
pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia,
Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di
Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati
Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh
Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari
kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang
memilih untuk menyingkir.
Dibawah kepengurusan "generasi tua", kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat di bidang pendidikan, sosial, dan budaya, akhirnya mulai bergeser di bidang politik. Strategi perjuangan BU juga ikut berubah dari yang awalnya sangat menonjolkan sifat protonasionalisme menjadi lebih kooperatif dengan pemerintah kolonial belanda.
Jika dilihat dari keanggotaannya, Budi Utomo sebenarnya adalah sebuah perkumpulan kedaerahan Jawa. Namun sejak konggres di Batavia tahun 1931, keanggotaan Budi Utomo dibuka untuk semua orang Indonesia. Budi Utomo juga membuktikan diri sebagai sebuah organisasi yang bersifat nasional dengan cara bergabung di PBI (Persatuan Bangsa Indonesia). Penggabungan inilah yang kemudian membentuk sebuah organisasi baru bernama PARINDRA (Partai Indonesia Raya).
Dibawah kepengurusan "generasi tua", kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat di bidang pendidikan, sosial, dan budaya, akhirnya mulai bergeser di bidang politik. Strategi perjuangan BU juga ikut berubah dari yang awalnya sangat menonjolkan sifat protonasionalisme menjadi lebih kooperatif dengan pemerintah kolonial belanda.
Jika dilihat dari keanggotaannya, Budi Utomo sebenarnya adalah sebuah perkumpulan kedaerahan Jawa. Namun sejak konggres di Batavia tahun 1931, keanggotaan Budi Utomo dibuka untuk semua orang Indonesia. Budi Utomo juga membuktikan diri sebagai sebuah organisasi yang bersifat nasional dengan cara bergabung di PBI (Persatuan Bangsa Indonesia). Penggabungan inilah yang kemudian membentuk sebuah organisasi baru bernama PARINDRA (Partai Indonesia Raya).
c) Berakhirnya
oganisasi Budi Utomo
Runtuhnya organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935, hal ini di sebabkan
karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial
membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok
moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Pada tahun 1935
organisasi ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Parindra (Suhartono,
2001 : 31). Sejak saat itu Budi Utomo terus mundur dari arena politik dan
kembali kekeadaan sebelumnya. Dalam bukunya Pringgodigdo (1998:2-3), menyebutkan
bahwa keruntuhan Budi Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan
Indonesia yang dilakukan Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier
yang terdiri dari Bangsa Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa. Banyak
orang yang memandang Budi Utomo lembek oleh karena menuju “kemajuan yang
selaras buat tanah air dan Bangsa” serta terlalu sempit keanggotaannya (hanya
untuk Bangsa Indonesia dari Jawa, Madura, Bali, dan Lombok yaitu daerah yang
berkebudayaan Jawa semata-mata) meninggalkan Budi Utomo.
B. Muhammadiyah
(18 November 1912)
a) Latar belakang berdirinya
Muhammadiyah
Muhammadiyah
didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18
Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal
dengan KHA Dahlan (Mustafa Kamal Pasha, Chusnan Yusuf, A.Rosyad Sholeh, 1970 :
9-10). Adapun faktor-faktor yang menyebabkan didirikannya Muhammadiyah itu
adalah sebagai berikut :
-
Pendalaman KHA. Dahlan terhadap ayat-ayat al-quran
khususnya surat ali-imran ayat 104
-
Belum selesai dan sempurnanya perjuangan para wali dalam
pengembangan agama islam di Indonesia
-
Adanya penjajahan kolonialis belanda yang membelenggu
rakyat dan umat islam Indonesia.
Embrio
kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan
gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan
dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai
Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan
saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai
mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang
ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai
Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar
terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban, ahli
sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan
oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad
Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian
menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan
setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi
spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.
b) Tujuan
berdirinya Muhammadiyah
Menurut Mustafa Kamal Pasha (1970 : 12) dalam
bukunya yang berjudul “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam” tujuan didirikannya
Muhammadiyah antara lain :
-
Menegakkan,
-
Menjunjung tinggi,
-
Agama islam,
-
Terwujud,
-
Masyarakat islam,
-
Sebenar-benarnya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya tujuan Muhammadiyah yaitu membangun,
memelihara, dan memegang teguh agama islam dengan rasa ketaatan melebihi
ajaran-ajaran lainnya, untuk mendapatkan suatu kehidupan masyarakat adil makmur
bahagia-sejahtera, aman sentosa, lahir dan batin, dengan mendapatkan ridha
Allah swt.
c) Perkembangan
Muhammadiyah
dalam meninjau perkembangan muhammadiyah dapat di bedakan :
1. Secara vertikal, yaitu perkembangan dan
perluasan organisasi Muhammadiyah keseluruh penjuru tanah air, dalam wujud
konkritnya berbentuk pendirian ranting cabang, daerah, dan wilayah.
2. Secara horizontal, yaitu perkembangan dan
perluasan amalan-amalan Muhammadiyah maka dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja
yang berkedudukan sebagai pembantu pimpinan perserikatan, berupa majlis-majlis,
antara lain :
-
Majlis tabligh
-
Majlis tarjih
-
Majlis pendidikan dan pengajaran
-
Majlis pembina kesejahteraan umat
-
Majelis pembina ekonomi
-
Majlis wakaf dan kehartabendaan
-
Majlis taman pustaka
-
Majlis hikmah
-
Majlis pembina karyawan
-
Majlis bimbingan pemuda
Dalam perkembangan berbagai usaha yang dilakukan oleh muhammadiyah,
disamping majlis-majlis yang telah ada, maka dibentuklah berbagai macam
organisasi otonom (Mustafa Kamal Pasha, Chusnan Yusuf, A.Rosyad Sholeh, 1970 :
17-19).
C. Nahdhatul Ulama
(31 Januari 1926)
a) Latar belakang
berdirinya Nahdhatul Ulama
Nahdhatul Ulama pada waktu berdirinya ditulis dengan
ejaan lama “Nahdlatul Oelama (NO) didirikan didirikan di Surabaya oleh para
ulama pada tanggal 31 Januari 1926/ 16 Rajab 1344 H. Para ulama tersebut
penganut mazhab yang menyebut dirinya sebagai golongan Ahlussunah Waljama’ah
yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah(Hasbullah,
2001 : 106).
Menurut mansur dan mahfud (2005 : 74) dalam bukunya yang
berjudul “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia” menyatakan bahwa
Organisasi ini didirikan sebagai perluasan dari Komite Hijaz, untuk mengimbangi Komite
Khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ketangan pembaharu. Disamping itu untuk berseru kepada
Raja Ibnu Sa’ud, penguasa baru di tanah Arab, agar kebiasaan beragama secara
tradisi dapat diteruskan. Pada tahun
1924, Syarif Husein, Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukan oleh
Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi. Tersebarlah berita penguasa baru itu
akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan ala kaum Sunni, yang sudah
berjalan berpuluh-puluh tahun di tanah Arab, dan akan menggantikan dengan model
Wahabi. Pengalaman agama dengan sistem bermadzab, tawasul, ziarah kubur, maulid
nabi, dan lain sebagainya akan segera hilang.
Pada mulanya NU
merupakan organisasi keagamaan dan NU tumbuh pada masa perjuangan pergerakan
nasional ,oleh sebab itu NU tidak bisa lepas dari langkah-langkah yang berisi
dan berjiwa pergerakan anti penjajahan, atau terlibat dalam bidang politik
diantaranya (mansur dan mahfud, 2005 : 74):
1. Menolak subsidi yang ditawarkan pemerintah untuk madrasah
NU dan menolak kerja rodi yang dibebankan kepada bangsa Indonesia.
2. Menolak rencana ordonansi perkawinan tercatat.
3. Menolak diadakan milisi.
4. Mendukung tuntutan berparlemen.
5. Mengadakan usaha-usaha sosial dalam masyarakat.
6. Mendidik mental beragama diantaranya mendirikan pondok
pesantren.
b) Tujuan
didirikannya NU
Sebelum menjadi partai
politik, NU bertujuan memegang teguh salah satu mazhab dari mazhab imam yang
berempat, yaitu: Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi dan mengajarkan apa yang
menjadi kemaslahatan untuk agama Islam (AD NU tahun 1926).
Untuk mencapai tujuan tersebut,
diusahakan hal-hal sebagai berikut (enung rukiati,2006 :
88):
- Mengadakan perhubungan diantara
ulama-ulama yang bermazhab tersebut diatas.
- Memeriksa kitab-kitab sebelum dipakai
untuk mengajar, supaya diketahui apakah kitab itu termasuk kitab-kitab
Ahlussunah Waljama’ah atau kitab-kitab ahli bid’ah.
- Menyiarkan agama Islam berasaskan pada
mazhab-mazhab tersebut diatas dengan jalan apa saja yang baik.
- Berikhtiar memperbanyak madrasah-madrasah
yang berdasarkan Islam.
- Memperhatikan hal-hal yang berhubungan
dengan mesjid-mesjid, surau-surau, dan pondok-pondok, begitu juga dengan
hal ihwal anak-anak yatim dan orang-orang fakir miskin.
- Mendirikan badan-badan untuk memajukan
urusan pertanian, perniagaan dan perusahaan yang tiada dilarang oleh
syara’ agama Islam.
Setelah menjadi partai politik
pada bulan Mei 1952 yang dituangkan ke dalam Anggaran Dasarnya yang baru, NU bertujuan (hasbullah,
2001 : 108):
- Menegakkan syari’at Islam dengan berhaluan
pada salah satu dari empat mazhab Syafi’i, Maliki, Hanifi, dan Hambali.
- Melaksanakan berlakunya hukum-hukum Islam
dalam masyarakat (lebih bersifat politis).
Untuk pencapaian tersebut diadakanlah
usaha-usaha antara lain dengan jalan (hasbullah, 2001 : 108):
- Menyiarkan agama Islam melalui
tabligh-tabligh, kursus-kursusdan penerbitan-penerbitan.
- Mempertinggi mutu pendidikan dan
pengajaran Islam.
c) Perkembangan NU
Nahdlatul Ulama
mendirikan beberapa madrasah di tiap-tiap cabang dan ranting untuk mempertinggi
nilai kecerdasan masyarakat islam dan mempertinggi budi pekerti mereka(mahmud
yunus, 1995 : 241). Pada akhir tahun
1938 (1356H), komisi perguruan NU berhasil melahirkan reglement tentang susunan
madrasah-madrasah NU yang harus dijalakan mulai tanggal 2 Muharram 1357 H.
Adapun susunan madrasah-madrasah NU, tersebut adalah:
1. Madrasah
Awaliyah dengan lama belajar 2 tahun.
2. Madrasah Ibtidaiyah dengan lama belajar 3 tahun.
3. Madrasah Tsanawiyah dengan lama belajar 3 tahun.
4. Madrasah Mu’allimin Wustha dengan lama belajar 2 tahun.
5. Madrasah Mu’allimin ‘ Ulya dengan lama belajar 3 tahun.
d) problematika pendidikan NU
1.
Stigma buruk, kumuh, tidak
dikelola dengan baik oleh masyarakat kadang masih terjadi, bahkan
madrasah dituduh sebagai tempat pelatihan teroris.
2.
Yang menjadi masalah klasik dalam
lembaga pendidikan NU adalah persoalan managemen, koordinasi, pengembangan
kreatifitas dan penciptaan inovsi.
3.
Masyarkat NU kalau mengeluarkan
uang untuk kiai itu luar biasa, tetapi kalau mengeluarkan uang untuk
laboratorium, perpustakaan mereka kurang tergugah.
4.
Dalam masalah keilmuan, pendidikan
NU lebih menekankan kepada pendidikan keagamaan, sering terjebak dalam dikotomi
keilmuan yaitu antara ilmu dunia dan ilmu agama. Ilmu dunia atau umum tidak
danggap paenting karena tidak dipertanyakan di Hari Khisab (Perhitungan).
5.
Dokumentasi atau pengarsipan
surat-surat atau teks-teks yang sebenarnya amat penting dan berguna bagi
lembagaan pendidikan NU.
6.
Patronase
kiai (ulama) yang berlebihan di kalangan struktural NU. Kebijakan-kebijakan
organisasi yang sudah tertata rapi dan disepakati secara bersama, terkadang
luntur dan gugur hanya gara-gara somasi kiai(http//www.pendidikan
nu.com).
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Organisasi
sosal kemasyarakatan di bentuk akibat kesadaran dari masyarakat bumiputera
(pribumi) yang sudah jenuh dan merasa terkekang dengan kehadiran kolonial
Belanda. Budi Utomo adalah organisasi sosial yang tumbuh dan terbentuk dari
kesadaran para pelajar / mahasiswa yang mulai terpuruk dengan biaya pendidikan
pada saat itu. Namun, lambat laun kehadiran organisasi budi utomo ini membuat
para kolonial merasa terancam, sehingga terjadilah perpisan antar kelompok
dikalangan organisasi ini.
Kemudian
organisasi yang berbasis keagamaan yaitu muhammadiyah. Organisasi ini berdiri
akibat adanya dorongan dari founding father organisasi ini yaitu KHA.
Dahlan. Beliau mendirikan organisasi ini untuk mengembalikan atau memurnikan
ajaran islam kembali kepada Al-qur’an dan Sunnah, seperti gerakan yang di bawa
oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Sehingga organisasi ini pun berkembang sampai
sekarang. Organisasi selanjutnya yaitu nahdhatul ulama, organisasi ini sering
menyebut dirinya sebagai kaum ahl sunnah wal jamaah atau berpaham sunni, yang
pro terhadap pembaharuan islam sehingga organisasi ini berdiri dari
pesantren-pesantren yang berpaham sunni. Organisasi ini sama dengan
muhammadiyah yang tetap eksis hingga sekarang. Sehingga antara Muhammadiyah dan
Nahdhatul Ulama memiliki perbedaan dalam pemahaman dan ideologi, namun pada
dasarnya sama yaitu mengajarkan dan mengembangkan ajaran islam.
DAFTAR PUSTAKA
Enung
Rukiat.
2006. Sejarah
Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung:
Pustaka Setia.
Hasbullah.2001.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
http//www.pendidikan
nu.com
Kamal Pasha, mustafa. Yusuf, Chusnan. dan Sholeh, A.
Rosyad. 1970. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta : Pimpinan
Pusat Muhammadiyah.
Mahmud Yunus.
1995. Sejarah
Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta
Pusat: Mutiara Sumber Widya.
Mansur.Junaedi,Mahfud.2005.Rekonstrksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Departemen Agama.
Priggodigdo, 1980. Sejarah Pergerakan
Rakyat Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.
suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo Sampai
Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
semoga bermanfaat
BalasHapus