Kamis, 03 Oktober 2013

Makalah SPN

ORGANISASI SOSIAL KEMASYARAKATAN
makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas
Sejarah Pergerakan Nasional
semester III
Dosen Pengampu : Drs. H. Jahdan Ibnu Humam Saleh. MS


Di Susun Oleh :
Sri Windari                 (12120004)
JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
            Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Semua Organisasi sosial bertujuan untuk menanggulangi permasalahan kesejahteraan sosial dan kemanusiaan di Indonesia bersama dengan pemerintah dalam rangka melaksanakan usaha kesejahteraan sosial untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Menurut Berelson dan Steiner(1964:55) sebuah organisasi memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya Formalitas, Hirarki, Besar dan Kompleksnya, dan Lamanya (duration).
            Pada awal abad ke-20, pemimpin-pemimpin Indonesia sadar bahwa perlawanan bersenjata tidak akan berhasil.Apalagi jika perlawanan itu bersifat kedaerahan. Rasa persatuan dan kebangsaan mulai berkembang. Suku-suku bangsa Indonesia sama-sama menderita di bawah penjajahan. Penderitaan yang sama itu menimbulkan rasa persatuan. Merekapun sadar bahwa mereka adalah satu bangsa, dan mempunyai satu tanah air.
B.    Rumusan masalah
-        Jenis organisasi sosial
-        Latar belakang berdirinya organisasi sosial
-        Tujuan organisasi sosial
-        Faktor berakhirnya organisasi sosial








BAB II
PEMBAHASAN

1.     ORGANISASI SOSIAL KEMASYARAKATAN
Penjajahan Belanda tidak lagi di lawan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan politik. Seluruh rakyat diikutkan dalam perjuangan. Mereka berhimpun dalam berbagai organisasi. Berikut akan saya paparkan sekilas tentang macam-macam organisasi sosial yang berdiri pada zaman pergerakan nasional. Diantaranya yaitu Budi Utomo, Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama.
A.    Budi Utomo (20 Mei 1908)
a)     Latar belakang berdirinya Budi Utomo
            Budi Utomo (Boedi Oetomo) didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Soetomo, Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T Ario Tirtokusumo. Berdirinya Budi Utomo tak bisa lepas dari peran dr. Wahidin Sudirohusodo, walaupun bukan pendiri Budi Utomo, namun beliaulah yang telah menginspirasi Sutomo dan kawan-kawan untuk mendirikan organisasi pergerakan nasional ini. Wahidin Sudirohusodo sendiri adalah seorang alumni STOVIA yang sering berkeliling di kota-kota besar di Pulau Jawa untuk mengkampanyekan gagasannya mengenai bantuan dana bagi pelajar-pelajar pribumi berprestasi yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Gagasan ini akhirnya beliau kemukakan kepada pelajar-pelajar STOVIA di Jakarta, dan ternyata mereka menyambut baik gagasan mengenai organisasi pendidikan tersebut. Tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, sampai sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional kerena organisasi ini dianggap sebagai organisasi kebangsaan yang pertama.
Untuk merealisasikannya diperlukan pengajaran bagi orang jawa agar mendapatkan kemajuan dan tidak dilupakan usaha membangkitkan kembali kultur jawa; jadi antara tradisi, kultur dan edukasi barat dikombinasikan (Suhartono, 1994 : 30).
b)     Tujuan berdirinya Budi Utomo
             Sutomo mendeklarasikan berdirinya organisasi Budi Utomo. Tujuan yang hendak dicapai dari pendirian organisasi Budi Utomo tersebut antara lain:
  1. Memajukan pengajaran.
  2. Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan.
  3. Memajukan teknik dan industri.
  4. Menghidupkan kembali kebudayaan.
            Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir.
            Dibawah kepengurusan "generasi tua", kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat di bidang pendidikan, sosial, dan budaya, akhirnya mulai bergeser di bidang politik. Strategi perjuangan BU juga ikut berubah dari yang awalnya sangat menonjolkan sifat protonasionalisme menjadi lebih kooperatif dengan pemerintah kolonial belanda.
            Jika dilihat dari keanggotaannya, Budi Utomo sebenarnya adalah sebuah perkumpulan kedaerahan Jawa.
Namun sejak konggres di Batavia tahun 1931, keanggotaan Budi Utomo dibuka untuk semua orang Indonesia. Budi Utomo juga membuktikan diri sebagai sebuah organisasi yang bersifat nasional dengan cara bergabung di PBI (Persatuan Bangsa Indonesia). Penggabungan inilah yang kemudian membentuk sebuah organisasi baru bernama PARINDRA (Partai Indonesia Raya).
c)     Berakhirnya oganisasi Budi Utomo
Runtuhnya organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935, hal ini di sebabkan karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Pada tahun 1935 organisasi ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Parindra (Suhartono, 2001 : 31). Sejak saat itu Budi Utomo terus mundur dari arena politik dan kembali kekeadaan sebelumnya. Dalam bukunya Pringgodigdo (1998:2-3), menyebutkan bahwa keruntuhan Budi Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan Indonesia yang dilakukan Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier yang terdiri dari Bangsa Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa. Banyak orang yang memandang Budi Utomo lembek oleh karena menuju “kemajuan yang selaras buat tanah air dan Bangsa” serta terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk Bangsa Indonesia dari Jawa, Madura, Bali, dan Lombok yaitu daerah yang berkebudayaan Jawa semata-mata) meninggalkan Budi Utomo.

B.    Muhammadiyah (18 November 1912)
a)     Latar belakang berdirinya Muhammadiyah
            Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan (Mustafa Kamal Pasha, Chusnan Yusuf, A.Rosyad Sholeh, 1970 : 9-10). Adapun faktor-faktor yang menyebabkan didirikannya Muhammadiyah itu adalah sebagai berikut :
-        Pendalaman KHA. Dahlan terhadap ayat-ayat al-quran khususnya surat ali-imran ayat 104
-        Belum selesai dan sempurnanya perjuangan para wali dalam pengembangan agama islam di Indonesia
-        Adanya penjajahan kolonialis belanda yang membelenggu rakyat dan umat islam Indonesia.
Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.
b)     Tujuan berdirinya Muhammadiyah
Menurut Mustafa Kamal Pasha (1970 : 12) dalam bukunya yang berjudul “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam” tujuan didirikannya Muhammadiyah antara lain :
-        Menegakkan,
-        Menjunjung tinggi,
-        Agama islam,
-        Terwujud,
-        Masyarakat islam,
-        Sebenar-benarnya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya tujuan Muhammadiyah yaitu membangun, memelihara, dan memegang teguh agama islam dengan rasa ketaatan melebihi ajaran-ajaran lainnya, untuk mendapatkan suatu kehidupan masyarakat adil makmur bahagia-sejahtera, aman sentosa, lahir dan batin, dengan mendapatkan ridha Allah swt.
c)     Perkembangan Muhammadiyah
dalam meninjau perkembangan muhammadiyah dapat di bedakan :
1.     Secara vertikal, yaitu perkembangan dan perluasan organisasi Muhammadiyah keseluruh penjuru tanah air, dalam wujud konkritnya berbentuk pendirian ranting cabang, daerah, dan wilayah.
2.     Secara horizontal, yaitu perkembangan dan perluasan amalan-amalan Muhammadiyah maka dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang berkedudukan sebagai pembantu pimpinan perserikatan, berupa majlis-majlis, antara lain :
-        Majlis tabligh
-        Majlis tarjih
-        Majlis pendidikan dan pengajaran
-        Majlis pembina kesejahteraan umat
-        Majelis pembina ekonomi
-        Majlis wakaf dan kehartabendaan
-        Majlis taman pustaka
-        Majlis hikmah
-        Majlis pembina karyawan
-        Majlis bimbingan pemuda
Dalam perkembangan berbagai usaha yang dilakukan oleh muhammadiyah, disamping majlis-majlis yang telah ada, maka dibentuklah berbagai macam organisasi otonom (Mustafa Kamal Pasha, Chusnan Yusuf, A.Rosyad Sholeh, 1970 : 17-19).
C.    Nahdhatul Ulama (31 Januari 1926)
a)     Latar belakang berdirinya Nahdhatul Ulama
Nahdhatul Ulama pada waktu berdirinya ditulis dengan ejaan lama “Nahdlatul Oelama (NO) didirikan didirikan di Surabaya oleh para ulama pada tanggal 31 Januari 1926/ 16 Rajab 1344 H. Para ulama tersebut penganut mazhab yang menyebut dirinya sebagai golongan Ahlussunah Waljama’ah yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah(Hasbullah, 2001 : 106).
Menurut mansur dan mahfud (2005 : 74) dalam bukunya yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia” menyatakan bahwa Organisasi ini didirikan sebagai perluasan dari Komite Hijaz, untuk mengimbangi Komite Khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ketangan pembaharu. Disamping itu untuk berseru kepada Raja Ibnu Sa’ud, penguasa baru di tanah Arab, agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan. Pada  tahun 1924, Syarif Husein, Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi. Tersebarlah berita penguasa baru itu akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan ala kaum Sunni, yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun di tanah Arab, dan akan menggantikan dengan model Wahabi. Pengalaman agama dengan sistem bermadzab, tawasul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain sebagainya akan segera hilang.
Pada mulanya NU merupakan organisasi keagamaan dan NU tumbuh pada masa perjuangan pergerakan nasional ,oleh sebab itu NU tidak bisa lepas dari langkah-langkah yang berisi dan berjiwa pergerakan anti penjajahan, atau terlibat dalam bidang politik diantaranya (mansur dan mahfud, 2005 : 74):
1.     Menolak subsidi yang ditawarkan pemerintah untuk madrasah NU dan menolak kerja rodi yang dibebankan kepada bangsa Indonesia.
2.     Menolak rencana ordonansi perkawinan tercatat.
3.     Menolak diadakan milisi.
4.     Mendukung tuntutan berparlemen.
5.     Mengadakan usaha-usaha sosial dalam masyarakat.
6.     Mendidik mental beragama diantaranya mendirikan pondok pesantren.
b)     Tujuan didirikannya NU
Sebelum menjadi partai politik, NU bertujuan memegang teguh salah satu mazhab dari mazhab imam yang berempat, yaitu: Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi dan mengajarkan apa yang menjadi kemaslahatan untuk agama Islam (AD NU tahun 1926).
Untuk mencapai tujuan tersebut, diusahakan hal-hal sebagai berikut (enung rukiati,2006 : 88):
  1. Mengadakan perhubungan diantara ulama-ulama yang bermazhab tersebut diatas.
  2. Memeriksa kitab-kitab sebelum dipakai untuk mengajar, supaya diketahui apakah kitab itu termasuk kitab-kitab Ahlussunah Waljama’ah atau kitab-kitab ahli bid’ah.
  3. Menyiarkan agama Islam berasaskan pada mazhab-mazhab tersebut diatas dengan jalan apa saja yang baik.
  4. Berikhtiar memperbanyak madrasah-madrasah yang berdasarkan Islam.
  5. Memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan mesjid-mesjid, surau-surau, dan pondok-pondok, begitu juga dengan hal ihwal anak-anak yatim dan orang-orang fakir miskin.
  6. Mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan dan perusahaan yang tiada dilarang oleh syara’ agama Islam.
Setelah menjadi partai politik pada bulan Mei 1952 yang dituangkan ke dalam      Anggaran Dasarnya yang baru, NU bertujuan (hasbullah, 2001 : 108):
  1. Menegakkan syari’at Islam dengan berhaluan pada salah satu dari empat mazhab Syafi’i, Maliki, Hanifi, dan Hambali.
  2. Melaksanakan berlakunya hukum-hukum Islam dalam masyarakat (lebih bersifat politis).
Untuk pencapaian tersebut diadakanlah usaha-usaha antara lain dengan jalan (hasbullah, 2001 : 108):
  1. Menyiarkan agama Islam melalui tabligh-tabligh, kursus-kursusdan penerbitan-penerbitan.
  2. Mempertinggi mutu pendidikan dan pengajaran Islam.
c)     Perkembangan NU
Nahdlatul Ulama mendirikan beberapa madrasah di tiap-tiap cabang dan ranting untuk mempertinggi nilai kecerdasan masyarakat islam dan mempertinggi budi pekerti mereka(mahmud yunus, 1995 : 241). Pada  akhir tahun 1938 (1356H), komisi perguruan NU berhasil melahirkan reglement  tentang susunan madrasah-madrasah NU yang harus dijalakan mulai tanggal 2 Muharram 1357 H. Adapun susunan madrasah-madrasah NU, tersebut adalah:
1.     Madrasah Awaliyah dengan lama belajar 2 tahun.
2.     Madrasah Ibtidaiyah dengan lama belajar 3 tahun.
3.     Madrasah Tsanawiyah dengan lama belajar 3 tahun.
4.     Madrasah Mu’allimin Wustha dengan lama belajar 2 tahun.
5.     Madrasah Mu’allimin ‘ Ulya dengan lama belajar 3 tahun.
d)     problematika pendidikan NU
1.           Stigma buruk, kumuh, tidak dikelola dengan baik oleh masyarakat kadang masih terjadi, bahkan madrasah dituduh sebagai tempat pelatihan teroris.
2.           Yang menjadi masalah klasik dalam lembaga pendidikan NU adalah persoalan managemen, koordinasi, pengembangan kreatifitas dan penciptaan inovsi.
3.           Masyarkat NU kalau mengeluarkan uang untuk kiai itu luar biasa, tetapi kalau mengeluarkan uang untuk laboratorium, perpustakaan mereka kurang tergugah.
4.           Dalam masalah keilmuan, pendidikan NU lebih menekankan kepada pendidikan keagamaan, sering terjebak dalam dikotomi keilmuan yaitu antara ilmu dunia dan ilmu agama. Ilmu dunia atau umum tidak danggap paenting karena tidak dipertanyakan di Hari Khisab (Perhitungan).
5.           Dokumentasi atau pengarsipan surat-surat atau teks-teks yang sebenarnya amat penting dan berguna bagi lembagaan  pendidikan NU.
6.           Patronase kiai (ulama) yang berlebihan di kalangan struktural NU. Kebijakan-kebijakan organisasi yang sudah tertata rapi dan disepakati secara bersama, terkadang luntur dan gugur hanya gara-gara somasi kiai(http//www.pendidikan nu.com).














BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
            Organisasi sosal kemasyarakatan di bentuk akibat kesadaran dari masyarakat bumiputera (pribumi) yang sudah jenuh dan merasa terkekang dengan kehadiran kolonial Belanda. Budi Utomo adalah organisasi sosial yang tumbuh dan terbentuk dari kesadaran para pelajar / mahasiswa yang mulai terpuruk dengan biaya pendidikan pada saat itu. Namun, lambat laun kehadiran organisasi budi utomo ini membuat para kolonial merasa terancam, sehingga terjadilah perpisan antar kelompok dikalangan organisasi ini.
            Kemudian organisasi yang berbasis keagamaan yaitu muhammadiyah. Organisasi ini berdiri akibat adanya dorongan dari founding father organisasi ini yaitu KHA. Dahlan. Beliau mendirikan organisasi ini untuk mengembalikan atau memurnikan ajaran islam kembali kepada Al-qur’an dan Sunnah, seperti gerakan yang di bawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Sehingga organisasi ini pun berkembang sampai sekarang. Organisasi selanjutnya yaitu nahdhatul ulama, organisasi ini sering menyebut dirinya sebagai kaum ahl sunnah wal jamaah atau berpaham sunni, yang pro terhadap pembaharuan islam sehingga organisasi ini berdiri dari pesantren-pesantren yang berpaham sunni. Organisasi ini sama dengan muhammadiyah yang tetap eksis hingga sekarang. Sehingga antara Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama memiliki perbedaan dalam pemahaman dan ideologi, namun pada dasarnya sama yaitu mengajarkan dan mengembangkan ajaran islam.






DAFTAR PUSTAKA
Enung Rukiat. 2006. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Hasbullah.2001.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
http//www.pendidikan nu.com
Kamal Pasha, mustafa. Yusuf, Chusnan. dan Sholeh, A. Rosyad. 1970. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta : Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Mahmud Yunus. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta Pusat: Mutiara Sumber Widya.
Mansur.Junaedi,Mahfud.2005.Rekonstrksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Departemen Agama.
Priggodigdo, 1980. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.
suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo Sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.










1 komentar:

just share!