Selasa, 21 Januari 2014

Materi Sejarah Pergerakan Nasinal

RESUME MATERI
SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Semester III
DOSEN PENGAMPU :
DRS. H. JAHDAN IBNU HUMAM SHOLEH, MS

DISUSUN OLEH :
SRI WINDARI
12120004
JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013



PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang Masalah
Dalam mempelajari sejarah pergerakan nasional yang harus di perhatikan bukanlah rangkaian kejadian yang telah terjadi di dalam sejarah itu, melainkan ide-ide, cita-cita yang menyebabkan Rakyat Indonesia bergerak dan berjuang serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sejarah adalah ide-ide yang ada dan kita harus memandang uraian sejarah pergerakan nasional sebagai usaha menonjolkan ide-ide perjuangan Rakyat Indonesia(Muhammad Sidky Daeng Materu. 1985 :1).
Ilmu sejarah itu bersifat objektif,artinya bahwa ilmu tersebut tidak boleh di tafsirkan bermacam-macam. Jadi menurut pandangan ini ilmu sejarah bagi semua orang sama saja, karena bersifat objektif, artinya fakta-fakta dalam sejarah itu tidak dapat di sangkal, karena sudah terjadi, akan tetapi karena fakta-fakta itu berbicara pada orang yang memandangnya, maka pandangan dapat bermacam-macam, tergantung pada siapa, tergantung pada siapa yang memandangnya, siapa yang menginterpretasikannya. Dengan demikian tergantung pada subjek yang memandangnya. Jadi sejarah selain dapat di tinjau secara objektif juga dapat di tinjau secara subjektif.
Dalam setiap pergerakan yang di lakukan oleh para pejuang kemerdekaan, pasti setiap pergerakan itu tidak terlepas dari sebuah perkumpulan, organisasi, atau bahkan pergerakan, untuk mengusir para penjajah dari bumi Indonesia. Namun sudahlah pasti akibat dari penjajahan itu kita menyerap kebudayaan asing bahkan asing pun menyerap kebudayaan kita, atau bahkan urusan negara kita diintervensi oleh bangsa lain. Tidak lain halnya seperti pergerakan dan organisasi yang berjuang, tidak hanya di kalangan pelajar, akan tetapi gerakan keagamaan, bahkan dari petani juga ada.
Dalam pembuatan tugas ini, akan di paparkan sedikit yang penulis ketahui tentang pergerakan nasional.
b.      Rumusan Masalah
-          Bagaimana intervensi budaya asing?
-          Apa saja organisasi sosial kemasyarakatan?
-          Bagaimana organisasi pendidikan klasik dan modern?
-          Apa itu gerakan kelaskaran?
-          Bagaimana proses piagam jakarta?
-          Seperti apa konteks pemberontakan petani banten?
-          Bagaimana gerakan petani di luar pulau jawa?






PEMBAHASAN
1.      Intervensi budaya asing
Intervensi adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh negara lain untuk  ikut campur urusan negara lain yang bukan merupakan urusan negaranya. Seperti halnya ikut campur terhadap urusan ekonomi, poltik, sosial dan budaya. Negara-negara yang sering melakukan intervensi terhadap negara lain, diantaranya negara-negara adidaya seperti AS, Inggris, Belanda dan Perancis. Intervensi yang sering mereka lakukan terhadap negara lain biasanya memiliki maksud dan tujuan tertentu yang dapat merugikan negara tersebut.
Dengan adanya intervensi budaya asing, maka sangat banyak dampak yang timbul dari intervensi tersebut. Masyarakat Indonesia jadi senang dengan gaya kebarat-baratan, seperti cara berpakaian , bergaul, dan lain sebagainya. Dan saat ini pun, tidak hanya dikalangan remaja, bahkan hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia, menjalani hidup dengan gaya kebarat-baratan. Gaya hidup yang hanya mementingkan kehidupan dunia. Dengan gaya berpakaian ala kebarat-baratan sudah menunjukkan adanya pengaruh yang tidak baik terhadap bangsa kita, mulai dari kecil hingga dewasa sudah tidak ada bedanya. Pengaruh budaya asing inilah yang sangat kental terhadap bangsa kita, hingga pengaruh dari budaya asing sudah menjadi kebiasaan bagi bangsa Indonesia. Hal-hal yang harus kita lakukan untuk tetap mempertahankan kebudayaan bangsa indonesia dari adanya intervensi budaya asing yaitu hendaknya kita mengetahui apa akibat yang akan kita peroleh dari adanya pengaruh tersebut. Dan juga hendaknya kita dapat mempertahankan jati diri bangsa indonesia dengan selalu mencintai tanah air dan selalu berjiwa nasionalisme.
2.      Organisasi sosial kemasyarakatan
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Semua Organisasi sosial bertujuan untuk menanggulangi permasalahan kesejahteraan sosial dan kemanusiaan di Indonesia bersama dengan pemerintah dalam rangka melaksanakan usaha kesejahteraan sosial untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Menurut Berelson dan Steiner(1964:55) sebuah organisasi memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya Formalitas, merupakan ciri organisasi sosial yang menunjuk kepada adanya perumusan tertulis daripada peratutan-peraturan, ketetapan-ketetapan, prosedur, kebijaksanaan, tujuan, strategi, dan seterusnya. kemudian Hirarki, yang merupakan ciri organisasi yang menunjuk pada adanya suatu pola kekuasaan dan wewenang yang berbentuk piramida, artinya ada orang-orang tertentu yang memiliki kedudukan dan kekuasaan serta wewenang yang lebih tinggi daripada anggota biasa pada organisasi tersebut. Setelah itu Besar dan Kompleksnya, dalam hal ini pada umumnya organisasi sosial memiliki banyak anggota sehingga hubungan sosial antar anggota adalah tidak langsung (impersonal), gejala ini biasanya dikenal dengan gejala “birokrasi”. dan Lamanya (duration ) menunjuk pada diri bahwa eksistensi suatu organisasi lebih lama daripada keanggotaan orang-orang dalam organisasi itu.
Penjajahan Belanda tidak lagi di lawan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan politik. Seluruh rakyat diikutkan dalam perjuangan. Mereka berhimpun dalam berbagai organisasi. Berikut akan saya paparkan sekilas tentang macam-macam organisasi sosial yang berdiri pada zaman pergerakan nasional. Diantaranya yaitu :
-          Budi Utomo (Boedi Oetomo) didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Soetomo, Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T Ario Tirtokusumo. Berdirinya Budi Utomo tak bisa lepas dari peran dr. Wahidin Sudirohusodo, walaupun bukan pendiri Budi Utomo, namun beliaulah yang telah menginspirasi Sutomo dan kawan-kawan untuk mendirikan organisasi pergerakan nasional ini. Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama. Sutomo mendeklarasikan berdirinya organisasi Budi Utomo. Tujuan yang hendak dicapai dari pendirian organisasi Budi Utomo tersebut antara lain: Memajukan pengajaran, Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan, Memajukan teknik dan industri, dan Menghidupkan kembali kebudayaan. Runtuhnya organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935, hal ini di sebabkan karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Runtuhnya organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935, hal ini di sebabkan karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Dalam bukunya Pringgodigdo (1998:2-3), menyebutkan bahwa keruntuhan Budi Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan Indonesia yang dilakukan Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier yang terdiri dari Bangsa Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa.
-          Muhammadiyah, didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan (Mustafa Kamal Pasha, Chusnan Yusuf, A.Rosyad Sholeh, 1970 : 9-10). Menurut Mustafa Kamal Pasha (1970 : 12) dalam bukunya yang berjudul “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam” tujuan didirikannya Muhammadiyah antara lain : Menegakkan, Menjunjung tinggi, Agama islam, Terwujud, Masyarakat islam, Sebenar-benarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya tujuan Muhammadiyah yaitu membangun, memelihara, dan memegang teguh agama islam dengan rasa ketaatan melebihi ajaran-ajaran lainnya, untuk mendapatkan suatu kehidupan masyarakat adil makmur bahagia-sejahtera, aman sentosa, lahir dan batin, dengan mendapatkan ridha Allah swt. dalam meninjau perkembangan muhammadiyah dapat di bedakan : Secara vertikal, yaitu perkembangan dan perluasan organisasi Muhammadiyah keseluruh penjuru tanah air, dalam wujud konkritnya berbentuk pendirian ranting cabang, daerah, dan wilayah. Dan Secara horizontal, yaitu perkembangan dan perluasan amalan-amalan Muhammadiyah maka dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang berkedudukan sebagai pembantu pimpinan perserikatan, berupa majlis-majlis.
-          Nahdhatul Ulama pada waktu berdirinya ditulis dengan ejaan lama “Nahdlatul Oelama (NO) didirikan di Surabaya oleh para ulama pada tanggal 31 Januari 1926/ 16 Rajab 1344 H. Para ulama tersebut penganut mazhab yang menyebut dirinya sebagai golongan Ahlussunah Waljama’ah yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah(Hasbullah, 2001 : 106). Sebelum menjadi partai politik, NU bertujuan memegang teguh salah satu mazhab dari mazhab imam yang berempat, yaitu: Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi dan mengajarkan apa yang menjadi kemaslahatan untuk agama Islam (AD NU tahun 1926).  Nahdlatul Ulama mendirikan beberapa madrasah di tiap-tiap cabang dan ranting untuk mempertinggi nilai kecerdasan masyarakat islam dan mempertinggi budi pekerti mereka(mahmud yunus, 1995 : 241). Pada  akhir tahun 1938 (1356H), komisi perguruan NU berhasil melahirkan reglement  tentang susunan madrasah-madrasah NU yang harus dijalakan mulai tanggal 2 Muharram 1357 H. Dalam mengembangkan program NU, terdapat beberapa hambatan maupun problematika dalam pendidikan diantaranya : Stigma buruk, kumuh, tidak dikelola dengan baik oleh masyarakat kadang masih terjadi, bahkan madrasah dituduh sebagai tempat pelatihan teroris. Yang menjadi masalah klasik dalam lembaga pendidikan NU adalah persoalan managemen, koordinasi, pengembangan kreatifitas dan penciptaan inovasi. Dan Masyarkat NU kalau mengeluarkan uang untuk kiai itu luar biasa, tetapi kalau mengeluarkan uang untuk laboratorium, perpustakaan mereka kurang tergugah.
3.      Organisasi pendidikan klasik dan Modern
Di kalangan umat islam pesantren masih dianggap sebagai model pendidikan yang menjanjikan bagi perwujudan masyarakat yang berkeadaban. Dalam perkembangannya pola asuh dari masing-masing pesantren pun beragam seiring dengan beragamnya latar belakang keilmuwan dan sosial budaya pengasuh (guru/kyai) yang menjadi poros utama sebuah pesantren. Asal-usul pesantren di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik Indonesia. Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Maulana Malik Ibrahim (meninggal 1419 di Gresik Jawa Timur).
Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri. Pesantren Tradisional (salafi) adalah jenis pesantren yg mempertahankan kemurnian identitas asli sebagai tempat mendalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi-I-din) bagi para santrinya. Contohnya pondok pesantren Maslakul Huda di Pati, dan pesantren Termas di Pacitan.
Pondok pesantren modern (khalafi) adalah pesantren yang telah melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikan, kelembagaan, sistem pendidikan, kelembagaan, dan fungsi, dan telah memasukan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka tipe sekolah-sekolah umum dalam lingkungan pesantren. Contohnya pondok pesantren Gontor yang tidak mengajarkan lagi kitab-kitab islam klasik tetapi memakai buku-buku literatur bahasa Arab kontemporer.
Secara historis, aspek modernitas sebenarnya telah dinampakan oleh pesantren jauh sebelum kemerdekaan, yakni sejak dilancarkannya perubahan atau modernisasi pendidikan Islam dikawasan muslim. Modernisasi paling awal sistem pendidikan di Indonesia, harus diakui tidak bersumber dari kaum Muslim sendri. Sistem pendidikan modern justru diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada paruh abad 19.

4.      Gerakan kelaskaran
Pada masa kemerdekaan, banyak aksi-aksi kelompok keagamaan yang moderat bahkan radikal sekalipun, hal ini masuk dalam gerakan kelaskaran. Seperti gerakan FPI (front pembela islam). Pembentukan FPI pada tanggal 17 Agustus 1998 Kantor pusat Jakarta, Pemimpin Indonesia Habib Rizieq Ketua LPI Munarman. Front Pembela Islam (FPI) adalah sebuah organisasi massa Islam bergaris keras yang berpusat di Jakarta. Selain beberapa kelompok internal, yang disebut oleh FPI sebagai sayap juang, FPI memiliki kelompok Laskar Pembela Islam, kelompok paramiliter dari organisasi tersebut yang kontroversial karena melakukan aksi- aksi "penertiban" (sweeping) terhadap kegiatan-kegiatan yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan syariat Islam terutama pada masa Ramadan dan seringkali berujung pada kekerasan. Organisasi ini terkenal dan kontroversial karena aksi-aksinya sejak tahun 1998. Rangkaian aksi yang berujung pada kekerasan sering diperlihatkan dalam media massa.
Pada tanggal 17 Agustus 1998, FPI dideklarasikan (atau 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dan disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek. Pendirian organisasi ini hanya empat bulan setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, karena pada saat pemerintahan orde baru presiden tidak mentoleransi tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun. FPI pun berdiri dengan tujuan untuk menegakkan hukum Islam di negara sekuler.
Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan. Latar belakang pendirian FPI sebagaimana diklaim oleh organisasi tersebut antara lain: Adanya penderitaan panjang ummat Islam di Indonesia karena lemahnya kontrol sosial penguasa sipil maupun militer akibat banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum penguasa. Adanya kemungkaran dan kemaksiatan yang semakin merajalela di seluruh sektor kehidupan. Adanya kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan harkat dan martabat Islam serta ummat Islam.
Banyak juga aksi-aksi simpatik FPI yang patut diapresiasi contohnya Pengiriman relawan bencana Tsunami, tapi mungkin aksi kekerasan yang dilakukan lebih banyak dan lebih kelihatan maka ini yang memicu aksi penolakan terhadap FPI.

5.      Piagam Jakarta
Piagam Jakarta adalah saksi nyata dalam terbentuknya negara Indonesia. Saksi nyata inilah yang membawa para pejuang menuju kegemilangan merdeka. Piagam Jakarta ini hanyalah segelintir kecil dalam bentuk pengorbanan dan perjuangan para founding fathers negara Indonesia. Bentuk piagam jakarta ini bisa dikatakan sebagai saksi bisu bahkan naskah sejarah yang tersimpan dan patut untuk diangkat dan di teliti bagaimana proses terbentuknya naskah ini sehingga menuju kearah pencerahan.
Mr. Muh. Yamin mengatakan bahwa piagam jakarta di tandatangani di gedung pegangsaan timur 56, tempat Bung Karno waktu itu berdiam, oleh 9 orang pemimpin. Mr. Muh. Yamin menjelaskan bahwa piagam jakarta itu semula bertujuan mempersatukan aliran politik dan agama, bukan bagian dari konstitusi dan pada mulanya secarik kertas bersejarah yang tersebar secara illegal, karena di rumuskan oleh aliran illegal dan aliran terbuka, walaupun kemudian merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi (Kohar Hari Sumarno.1984 : 47-48).
Pembentukan piagam jakarta yang memanas ini berawal dari sebuah keinginan para tokoh untuk menyelesaikan sebuah dasar negara, kemudian menghasilkan sebuah panitia kecil yang dibentuk pada tanggal 10 juli 1945 yang beranggotakan  9 orang. Hal ini berlanjut hingga tanggal 16 juli 1945. Meski awalnya persidangan ini  sejak tanggal 29 mei sampai tanggal 1 juni 1945 (Kohar Hari Sumarno. 1984 : 48-58).
Naskah piagam jakarta hampir seluruhnya sama dengan pembukaan Undang-Undang 1945. Namun Piagam Jakarta bukan bagian daripada Konstitusi 1945, bahwa ini adalah suatu naskah politik yang pada mulanya selembar kertas bersejarah yang tersebar secara illegal (perkataan Muhammad Yamin dalam buku yang berjudul, “Manusia Indonesia, Manusia Pancasila” halaman 47).
Dalam penghapusan tujuh kata dalam piagam jakarta menimbulkan permasalahan yang begitu rumit, yang menyebabkan salah satu tokoh muhammadiyah belum menerimanya. Untuk meluluhkan pendirian Ki Bagus, Soekarno kemudian mengirim utusan bernama Teuku Muhammad Hassan dan KH Wahid Hasyim agar bisa melobi Ki Bagus. Namun, keduanya tak mampu meluluhkan pendirian tokoh senior di Muhammadiyah ketika itu. Akhirnya, dipilihlah Kasman Singodimedjo yang juga orang Muhammadiyah, untuk melakukan pendekatan secara personal, sesama anggota Muhammadiyah, untuk melunakkan sikap dan pendirian Ki Bagus Hadikusumo.
Dalam memorinya yang berjudul ”Hidup Itu Berjuang“, Kasman menceritakan bahwa ia mendatangi Ki Bagus dan berkomunikasi dengan bahasa Jawa halus (kromo inggil). Kepada Ki Bagus, Kasman membujuk dengan mengatakan,“Kiai, kemarin proklamasi kemerdekaan Indonesia telah terjadi. Hari ini harus cepat-cepat ditetapkan Undang-Undang Dasar sebagai dasar kita bernegara, dan masih harus ditetapkan siapa presiden dan lain sebagainya untuk melancarkan perputaran roda pemerintahan. Kalau bangsa Indonesia, terutama pemimpin-pemimpinnya cekcok, lantas bagaimana?!
Kiai, sekarang ini bangsa Indonesia kejepit di antara yang tongol-tongol dan yang tingil-tingil. Yang tongol-tongol  ialah balatentara Dai Nippon yang masih berada di bumi Indonesia dengan persenjataan modern. Adapun yang tingil-tingil (yang mau masuk kembali ke Indonesia, pen) adalah sekutu termasuk di dalamnya Belanda, yaitu dengan persenjataan yang modern juga. Jika kita cekcok, kita pasti akan konyol.
Kiai, di dalam rancangan Undang-Undang Dasar yang sedang kita musyawarahkan hari ini tercantum satu pasal yang menyatakan bahwa 6 bulan lagi nanti kita dapat adakan Majelis Permusyawaratan Rakyat, justru untuk membuat Undang-Undang Dasar yang sempurna. Rancangan yang sekarang ini adalah  rancangan Undang-Undang Dasar darurat. Belum ada waktu untuk membikin yang sempurna atau memuaskan semua pihak, apalagi di dalam kondisi kejepit!
Kiai, tidakkah bijaksana jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah, yakni menghapus tujuh kata termaksud demi kemenangan cita-cita kita bersama, yakni tercapainya Indonesia  Merdeka sebagai negara yang berdaulat, adil, makmur, tenang tenteram, diridhai Allah SWT.”
Kasman juga menjelaskan perubahan yang diusulkan oleh Mohammad Hatta, bahwa kata ”Ketuhanan” ditambah dengan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”.  KH A Wahid Hasyim dan Teuku Muhammad Hassan yang ikut dalam lobi itu menganggap Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan yang lainnya. Kasman menjelaskan, Ketuhanan Yang Maha Esa menentukan arti Ketuhanan dalam Pancasila. ”Sekali lagi bukan Ketuhanan sembarang Ketuhanan, tetapi yang dikenal Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Kasman meyakinkan Ki Bagus.
Kasman juga menjelaskan kepada Ki Bagus soal janji Soekarno yang mengatakan bahwa enam bulan lagi akan ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membuat undang-undang yang sempurna. Di sanalah nanti kelompok Islam bisa kembali mengajukan gagasan-gagasan Islam. Karena Soekarno ketika itu mengatakan, bahwa perubahan ini adalah Undang-Undang Dasar sementara, Undang-undang Dasar kilat. “Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dapat membuat Undang-Undang yang lebih lengkap dan sempurna,” kata Soekarno.
”Hanya dengan kepastian dan jaminan enam bulan lagi sesudah Agustus 1945 itu akan dibentuk sebuah Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Majelis pembuat Undang-Undang Dasar Negara guna memasukkan materi Islam itu ke dalam undang-undang dasar yang tetap, maka bersabarlah Ki Bagus Hadikusumo itu untuk menanti,” kenang Kasman dalam memorinya.
Selain soal jaminan di atas, tokoh-tokoh Islam juga dihadapkan pada suatu situasi terjepit dan sulit, dimana kalangan sekular selalu mengatakan bahwa kemerdekaan yang sudah diproklamasikan membutuhkan persatuan yang kokoh. Inilah yang disebut Kasman dalam memorinya bahwa kalangan sekular pintar memanfaatkan momen psikologis, dimana bangsa ini butuh persatuan, sehingga segala yang berpotensi memicu perpecahan harus diminimalisir. Dan yang perlu dicatat, tokoh-tokoh Islam yang dari awal menginginkan negeri ini merdeka dan bersatu, saat itu begitu legowo untuk tidak memaksakan kehendaknya mempertahankan tujuh kata tersebut, meskipun begitu pahit rasanya hingga saat ini. Sementara kalangan sekular-Kristen yang minoritas selalu membuat move politik yang memaksakan kehendak mereka.
6.      Pemberontakan petani banten
Pemberontakan petani Banten merupakan suatu reaksi terhadap kolonialisme Barat di Banten sendiri. Sekitar tahun 1888 terjadi pemberontakan di daerah Anyer ujung Barat Laut Pulau Jawa. Latar belakang pemberontakan didasarkan pada berbagai aspek.
Aspek sosial-ekonomi masyarakat Banten pada saat itu merupakan bermata pencaharian pertanian. Dari sanalah muncul adanya patron and clien antara pemilik tanah dan penggarap tanah. Dengan datangnya pemerintaha kolonial Belanda, maka terjadi penguasaan atas tanah dan penerapan sistem pajak berupa penghasilan. Pajak yang harus diberikan merupakan seperlima penghasilan yang diserahkan. Maka memunculkan pemberontakan antara rakyat dan pemerintahan.
Perkembangan politik Banten pada saat itu merupakan mayoritas bersifat ketradisionalan. Golongan tradisional yang hampir mendominasi masyarakat banten. Sultanlah yang menjadi penguasa dan rakyat harus tunduk kepada penguasanya. Ketika Belanda datang, kekuasaan sultan menjadi boneka-boneka Belanda yang nantinya digunakan untuk memeras rakyat. Pamong praja di bentuk oleh belanda. Dari sanalah terjadi ketegangan karena sistem baru itu merugikan rakyat.
Seperti halnya daerah lain, kebangkitan agama terjadi di Banten. Sebagai respon terhadap westernisasi. Kebangkitan ini dipimpin oleh seorang haji yang nantinya sekaligus memimpin pemberontakan yang karismatik.
Keresahan sosial yang terjadi di Banten memiliki peranan dalam terjadinya pemberontakan. Faktor-faktor yang ikut menyebabkan terjadinya pergolakan pergolakan dan keresahan sosial adalah kompleks dan beraneka ragam seperti disintegrasi tatanan tradisional dan proses yang menyertainya, yakni semakin memburuknya sistem politik, dan tumbuhnya kebencian religious terhadap penguasa penguasa asing, sangat menonjol dalam banyak pemberontakan di Banten. Ditambah lagi adanya pamong praja yang menghasut masyarakat karena mereka kecewa terhadap pemerintahan kolonial. Hal ini memunculkan terjadinya permusuhan dengan pihak pamong praja.
   Pemberontakan petani banten merupakan suatu pemberontakan secara terencana dan tersusun secara tertutup. Peristiwa ledakan di Cilegon menjadi bukti aktivitas mereka, dan yang seorang hajilah yang menjadi peranan penting didalamnya. Salah satu diantara haji-haji tersebut adalah Haji Abdul Karim. Setelah Haji Abdul Karim kemudian muncullah Kiayi Haji Tubagus Ismail yang menggiatkan kembali pemberontakan.
Kematangan pemberontakan terjadi setelah banyak mencari pengikut, yaitu pengikut haji Marjuki, haji Wasid dll. Kegiatan-kegiatan persiapan pemberontakan selama tiga bulan terakhir tahun 1887 dan pertengahan pertama tahun 1888, ditandai oleh factor-faktor sebagai berikut : latihan pencak silat, pengumpulan dan pembuatan senjata, dan propaganda di luar banten dilanjutkan. Kegiatan-kegiatan lain diteruskan seperti menghasut khotbah tentang ramalan-ramalan dan ajaran tentang perang sabil, dan mrndorong mereka  untuk memakai jimat dan ikut dalam pertemuan-pertemuan keagamaan. Kegiatan-kegiatan gerakan benar-benar ditingkatkan, dan salah satu buktinya yang nyata adalah seringnya di adakan pertemuan  oleh pemimpin-pemimpin pemberontak hamper setiap minggu.
Pemberontakan ini terjadi pada tanggal 9 Juli tahun 1888. Mereka melakukan pemberontakan di daerah   Cilegon dengan maksud untuk membunuh pejabat-pejabat yang termasuk dalam birokrasi kolonial. Mereka tidak peduli meskipun harus membunuh pribumi bila para pribumi itu bekerja pada Koloni Belanda. Adapun mereka tidak membunuh seseorang bila orang itu mengucapkan kalimat syahadat. Serangan yang dilaksanakan kaum pemberontak pada tanggal 9 Julia ini merengut hampir semua pejabat terkemuka di Cilegon. Seperti Dumas yang merupakan juru tulis pada pengadilan distrik menjadi korban pertama pada pemberontakan ini.Mereka menyerang rumah-rumah pejabat kolonial dan membakar habis rumah serta arsip arsip penting pemerintahan kolonial.
Kekalahan yang terjadi di Toyomerto menjadi titik awal kehancuran pemberontakan ini. pasukan mereka tercerai berai sehingga pasukam militer Belanda memenangkan pertempuran. Satu persatu pemimpin pemberontakan wafat dan yang masih hidup ditawan dan sebagian dihukum mati. Namun setelah berakhirnya pemberontakan yaitu pada tahun 1889 muncul gerakan pemberontakan baru yang dipimpin oleh Haji Ahmad namun desas desus itu sudah diketahui oleh pemerintah kolonial dan dapat diredam dengan mudah.
7.      Gerakan petani di luar Jawa
Selain gerakan petani di Pulau jawa, khususnya di Banten, ternyata ada gerakan petani di Luar Jawa, yaitu Pulau Sumatera. Ya, khususnya daerah Sumatera Tengah dulunya, dan sekarang itu bisa disebut sebagai Sumatera barat. Karena Sumatera Barat masih masuk kedalam bagian sumatera tengah. Dan pada tahun 60-an Sumatera barat ini masih menjadi bagian Sumatera tengah.
Daerah sumatera barat memiliki dataran yang tinggi dan luas wilayahnya sampai Swedia, wilayah sumatera barat lebih condong pada perairan daripada dataran, oleh karena itu di sini banyak sekali sawah basah.
Pada tahun 1513-1515 wilayah sumatera barat khususnya pariaman merupakan bagian terpenting dan menjadi salah satu kota pelabuhan penting di pantai barat sumatera. Pedagang India, Eropa, dan Arab datang untuk berdagang emas, lada dan berbagai hasil perkebunan lainnya. Namun pada awal abad ke 17 kawasan ini sudah di kuasai oleh kesultanan Aceh.
Dengan adanya kedatangan VOC, wilayah ini terbebas dari kedaulatan kesultanan Aceh, karena VOC berhasil mengusir pengaruh kesultanan Aceh pada tahun 1668, dan pertanian di wilayah ini berkembang. Akan tetapi para petani merasa menderita, karena seluruh hasil panen mereka dikuasai oleh VOC.
Dengan adanya kedatangan Belanda, dunia mengetahui bahwa di pulau sumatera ada wilayah Pariaman yang lebih maju. Sedangkan dari segi ekonomi dalam bidang pertanian dan berpenghasilan yang tinggi, bahkan dalam segi politik yang berpegang pada 3 aspek diantaranya gold, glory dan gospel.
Dengan kedatangan belanda, terdapat kerugian dan keuntungan yang didapat oleh wilayah tersebut. Diantaranya wilayah tersebut mengetahui adanya perkembangan teknologi dengan pembangunan kereta api, pembangunan jalan, pelabuhan, dan lain sebagainya. Kerugiannya yaitu parapetani merasa dirugikan karena merusak perdagangan dan kebudayaan. Seperti petani merasa dirugikan dengan sistem perdagangan belanda yang masuk dan menguasai daerah tersebut. Misalnya mengekspor emas ke belanda hanya mencapai 2 dollar, sedangkan ke daerah atau negara lain seperti cina, eropa, dan arab mencapai 5 dollar. Dan seluruh hasil pertaniannya di kuasai oleh Belanda.
Dalam hal ini menimbulkan adanya pemberontakan dari petani. Karena para petani merasa tersiksa dengan kedatangan dan sistem belanda yang dijalankan di wilayah tersebut. Bentuk pemberontakannya seperti perang paderi, dalam hal ini ulama sangat berperan penting, seperti Imam Bonjol, al-Badarsyah, dan lain sebagainya.







DAFTAR PUSTAKA
Anshari, Saifuddin Endang. Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Jakarta : CV. Rajawali. 1986.
Dhofier, Zamakhsyari, 1982. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.
Enung Rukiat. 2006. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Hasbullah.2001.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hasil diskusi
http//www.pendidikan nu.com
http://www.perkuliahan.com/sejarah-pondok-pesantren-di-indonesia/#ixzz2g93rl2Nh
Kamal Pasha, mustafa. Yusuf, Chusnan. dan Sholeh, A. Rosyad. 1970. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta : Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Mahmud Yunus. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta Pusat: Mutiara Sumber Widya.
Mansur.Junaedi,Mahfud.2005.Rekonstrksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Departemen Agama.
Priggodigdo, 1980. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.
(saif al battar/arrahmah.com)
suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo Sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sumarno, Hari Kohar. Manusia Indonesia, Manusia Pancasila. Jakarta : Ghalia Indonesia. 1984.
Tuanaya, A. Malik M. Thaha dkk. 2007. Modernisasi Pesantren. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just share!