RESUME MATERI
SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Semester III
DOSEN PENGAMPU :
DRS. H. JAHDAN IBNU HUMAM SHOLEH, MS
DISUSUN OLEH :
SRI WINDARI
12120004
JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013
PENDAHULUAN
a.
Latar
Belakang Masalah
Dalam mempelajari sejarah pergerakan nasional yang harus di
perhatikan bukanlah rangkaian kejadian yang telah terjadi di dalam sejarah itu,
melainkan ide-ide, cita-cita yang menyebabkan Rakyat Indonesia bergerak dan
berjuang serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sejarah adalah ide-ide yang
ada dan kita harus memandang uraian sejarah pergerakan nasional sebagai usaha
menonjolkan ide-ide perjuangan Rakyat Indonesia(Muhammad Sidky Daeng Materu.
1985 :1).
Ilmu sejarah itu bersifat objektif,artinya bahwa ilmu tersebut
tidak boleh di tafsirkan bermacam-macam. Jadi menurut pandangan ini ilmu
sejarah bagi semua orang sama saja, karena bersifat objektif, artinya
fakta-fakta dalam sejarah itu tidak dapat di sangkal, karena sudah terjadi, akan
tetapi karena fakta-fakta itu berbicara pada orang yang memandangnya, maka
pandangan dapat bermacam-macam, tergantung pada siapa, tergantung pada siapa
yang memandangnya, siapa yang menginterpretasikannya. Dengan demikian
tergantung pada subjek yang memandangnya. Jadi sejarah selain dapat di tinjau
secara objektif juga dapat di tinjau secara subjektif.
Dalam setiap pergerakan yang di lakukan oleh para pejuang kemerdekaan,
pasti setiap pergerakan itu tidak terlepas dari sebuah perkumpulan, organisasi,
atau bahkan pergerakan, untuk mengusir para penjajah dari bumi Indonesia. Namun
sudahlah pasti akibat dari penjajahan itu kita menyerap kebudayaan asing bahkan
asing pun menyerap kebudayaan kita, atau bahkan urusan negara kita diintervensi
oleh bangsa lain. Tidak lain halnya seperti pergerakan dan organisasi yang
berjuang, tidak hanya di kalangan pelajar, akan tetapi gerakan keagamaan,
bahkan dari petani juga ada.
Dalam pembuatan tugas ini, akan di paparkan sedikit yang penulis
ketahui tentang pergerakan nasional.
b.
Rumusan
Masalah
-
Bagaimana
intervensi budaya asing?
-
Apa
saja organisasi sosial kemasyarakatan?
-
Bagaimana
organisasi pendidikan klasik dan modern?
-
Apa
itu gerakan kelaskaran?
-
Bagaimana
proses piagam jakarta?
-
Seperti
apa konteks pemberontakan petani banten?
-
Bagaimana
gerakan petani di luar pulau jawa?
PEMBAHASAN
1.
Intervensi
budaya asing
Intervensi
adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh negara lain untuk ikut campur urusan negara lain yang bukan
merupakan urusan negaranya. Seperti halnya ikut campur terhadap urusan ekonomi,
poltik, sosial dan budaya. Negara-negara yang sering melakukan intervensi
terhadap negara lain, diantaranya negara-negara adidaya seperti AS, Inggris,
Belanda dan Perancis. Intervensi yang sering mereka lakukan terhadap negara
lain biasanya memiliki maksud dan tujuan tertentu yang dapat merugikan negara
tersebut.
Dengan adanya
intervensi budaya asing, maka sangat banyak dampak yang timbul dari intervensi
tersebut. Masyarakat Indonesia jadi senang dengan gaya kebarat-baratan, seperti
cara berpakaian , bergaul, dan lain sebagainya. Dan saat ini pun, tidak hanya
dikalangan remaja, bahkan hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia, menjalani
hidup dengan gaya kebarat-baratan. Gaya hidup yang hanya mementingkan kehidupan
dunia. Dengan gaya berpakaian ala kebarat-baratan sudah menunjukkan adanya
pengaruh yang tidak baik terhadap bangsa kita, mulai dari kecil hingga dewasa
sudah tidak ada bedanya. Pengaruh budaya asing inilah yang sangat kental
terhadap bangsa kita, hingga pengaruh dari budaya asing sudah menjadi kebiasaan
bagi bangsa Indonesia. Hal-hal yang harus kita lakukan untuk tetap
mempertahankan kebudayaan bangsa indonesia dari adanya intervensi budaya asing yaitu
hendaknya kita mengetahui apa akibat yang akan kita peroleh dari adanya
pengaruh tersebut. Dan juga hendaknya kita dapat mempertahankan jati diri
bangsa indonesia dengan selalu mencintai tanah air dan selalu berjiwa
nasionalisme.
2.
Organisasi
sosial kemasyarakatan
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat,
baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana
partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Semua Organisasi
sosial bertujuan untuk menanggulangi permasalahan kesejahteraan sosial dan
kemanusiaan di Indonesia bersama dengan pemerintah dalam rangka melaksanakan
usaha kesejahteraan sosial untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Menurut Berelson dan Steiner(1964:55) sebuah organisasi memiliki
beberapa ciri-ciri diantaranya Formalitas, merupakan ciri organisasi
sosial yang menunjuk kepada adanya perumusan tertulis daripada
peratutan-peraturan, ketetapan-ketetapan, prosedur, kebijaksanaan, tujuan,
strategi, dan seterusnya. kemudian Hirarki, yang merupakan ciri
organisasi yang menunjuk pada adanya suatu pola kekuasaan dan wewenang yang
berbentuk piramida, artinya ada orang-orang tertentu yang memiliki kedudukan
dan kekuasaan serta wewenang yang lebih tinggi daripada anggota biasa pada
organisasi tersebut. Setelah itu Besar dan Kompleksnya, dalam hal ini
pada umumnya organisasi sosial memiliki banyak anggota sehingga hubungan sosial
antar anggota adalah tidak langsung (impersonal), gejala ini biasanya dikenal
dengan gejala “birokrasi”. dan Lamanya (duration ) menunjuk pada diri
bahwa eksistensi suatu organisasi lebih lama daripada keanggotaan orang-orang
dalam organisasi itu.
Penjajahan Belanda tidak lagi di lawan dengan kekuatan senjata,
tetapi dengan kekuatan politik. Seluruh rakyat diikutkan dalam perjuangan.
Mereka berhimpun dalam berbagai organisasi. Berikut akan saya paparkan sekilas
tentang macam-macam organisasi sosial yang berdiri pada zaman pergerakan
nasional. Diantaranya yaitu :
-
Budi
Utomo (Boedi Oetomo) didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh sejumlah mahasiswa
STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Soetomo,
Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T Ario Tirtokusumo. Berdirinya Budi Utomo
tak bisa lepas dari peran dr. Wahidin Sudirohusodo, walaupun bukan pendiri Budi
Utomo, namun beliaulah yang telah menginspirasi Sutomo dan kawan-kawan untuk
mendirikan organisasi pergerakan nasional ini. Muhammadiyah, dan Nahdhatul
Ulama. Sutomo mendeklarasikan berdirinya organisasi Budi Utomo. Tujuan yang
hendak dicapai dari pendirian organisasi Budi Utomo tersebut antara lain:
Memajukan pengajaran, Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan,
Memajukan teknik dan industri, dan Menghidupkan kembali kebudayaan. Runtuhnya organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935,
hal ini di sebabkan karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari
pemerintah kolonial membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi
perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Runtuhnya organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935, hal ini di sebabkan
karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial
membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok
moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Dalam bukunya Pringgodigdo (1998:2-3), menyebutkan bahwa keruntuhan Budi Utomo
disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan Indonesia yang dilakukan
Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier yang terdiri dari Bangsa
Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa.
-
Muhammadiyah,
didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18
Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal
dengan KHA Dahlan (Mustafa Kamal Pasha, Chusnan Yusuf, A.Rosyad Sholeh, 1970 :
9-10). Menurut Mustafa Kamal Pasha (1970 : 12) dalam bukunya yang berjudul
“Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam” tujuan didirikannya Muhammadiyah antara
lain : Menegakkan, Menjunjung tinggi, Agama islam, Terwujud, Masyarakat islam,
Sebenar-benarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya tujuan Muhammadiyah
yaitu membangun, memelihara, dan memegang teguh agama islam dengan rasa
ketaatan melebihi ajaran-ajaran lainnya, untuk mendapatkan suatu kehidupan
masyarakat adil makmur bahagia-sejahtera, aman sentosa, lahir dan batin, dengan
mendapatkan ridha Allah swt. dalam meninjau perkembangan muhammadiyah dapat di
bedakan : Secara vertikal, yaitu perkembangan dan perluasan organisasi
Muhammadiyah keseluruh penjuru tanah air, dalam wujud konkritnya berbentuk
pendirian ranting cabang, daerah, dan wilayah. Dan Secara horizontal, yaitu
perkembangan dan perluasan amalan-amalan Muhammadiyah maka dibentuklah
kesatuan-kesatuan kerja yang berkedudukan sebagai pembantu pimpinan
perserikatan, berupa majlis-majlis.
-
Nahdhatul Ulama pada waktu berdirinya ditulis
dengan ejaan lama “Nahdlatul Oelama (NO) didirikan di Surabaya oleh para ulama
pada tanggal 31 Januari 1926/ 16 Rajab 1344 H. Para ulama tersebut penganut
mazhab yang menyebut dirinya sebagai golongan Ahlussunah Waljama’ah yang
dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah(Hasbullah,
2001 : 106). Sebelum menjadi partai politik, NU bertujuan memegang teguh salah
satu mazhab dari mazhab imam yang berempat, yaitu: Syafi’i, Maliki, Hambali dan
Hanafi dan mengajarkan apa yang menjadi kemaslahatan untuk agama Islam (AD NU
tahun 1926). Nahdlatul Ulama mendirikan
beberapa madrasah di tiap-tiap cabang dan ranting untuk mempertinggi nilai
kecerdasan masyarakat islam dan mempertinggi budi pekerti mereka(mahmud yunus,
1995 : 241). Pada akhir tahun 1938
(1356H), komisi perguruan NU berhasil melahirkan reglement tentang susunan
madrasah-madrasah NU yang harus dijalakan mulai tanggal 2 Muharram 1357 H.
Dalam mengembangkan program NU, terdapat beberapa hambatan maupun problematika
dalam pendidikan diantaranya : Stigma buruk, kumuh, tidak dikelola dengan baik
oleh masyarakat kadang masih terjadi, bahkan madrasah dituduh sebagai tempat
pelatihan teroris. Yang menjadi masalah klasik dalam lembaga pendidikan NU
adalah persoalan managemen, koordinasi, pengembangan kreatifitas dan penciptaan
inovasi. Dan Masyarkat NU kalau mengeluarkan uang untuk kiai itu luar biasa,
tetapi kalau mengeluarkan uang untuk laboratorium, perpustakaan mereka kurang
tergugah.
3.
Organisasi pendidikan klasik dan Modern
Di
kalangan umat islam pesantren masih dianggap sebagai model pendidikan yang
menjanjikan bagi perwujudan masyarakat yang berkeadaban. Dalam perkembangannya pola asuh dari masing-masing pesantren pun
beragam seiring dengan beragamnya latar belakang keilmuwan dan sosial budaya
pengasuh (guru/kyai) yang menjadi poros utama sebuah pesantren. Asal-usul
pesantren di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah pengaruh Walisongo
abad 15-16 di Jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik
Indonesia. Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama
berabad-abad. Maulana Malik Ibrahim (meninggal 1419 di Gresik Jawa Timur).
Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe
di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri. Pesantren
Tradisional (salafi) adalah jenis pesantren yg mempertahankan kemurnian
identitas asli sebagai tempat mendalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi-I-din)
bagi para santrinya. Contohnya pondok pesantren Maslakul Huda di Pati, dan
pesantren Termas di Pacitan.
Pondok pesantren modern (khalafi) adalah pesantren yang telah
melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikan, kelembagaan, sistem pendidikan,
kelembagaan, dan fungsi, dan telah memasukan pelajaran-pelajaran umum dalam
madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka tipe sekolah-sekolah umum
dalam lingkungan pesantren. Contohnya pondok pesantren Gontor yang tidak
mengajarkan lagi kitab-kitab islam klasik tetapi memakai buku-buku literatur
bahasa Arab kontemporer.
Secara historis, aspek modernitas sebenarnya telah dinampakan oleh
pesantren jauh sebelum kemerdekaan, yakni sejak dilancarkannya perubahan atau
modernisasi pendidikan Islam dikawasan muslim. Modernisasi paling awal sistem
pendidikan di Indonesia, harus diakui tidak bersumber dari kaum Muslim sendri.
Sistem pendidikan modern justru diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda
pada paruh abad 19.
4.
Gerakan
kelaskaran
Pada masa
kemerdekaan, banyak aksi-aksi kelompok keagamaan yang moderat bahkan radikal
sekalipun, hal ini masuk dalam gerakan kelaskaran. Seperti gerakan FPI (front
pembela islam). Pembentukan FPI pada tanggal 17 Agustus 1998 Kantor pusat
Jakarta, Pemimpin Indonesia Habib Rizieq Ketua LPI Munarman. Front Pembela
Islam (FPI) adalah sebuah organisasi massa Islam bergaris keras yang berpusat
di Jakarta. Selain beberapa kelompok internal, yang disebut oleh FPI sebagai
sayap juang, FPI memiliki kelompok Laskar Pembela Islam, kelompok paramiliter
dari organisasi tersebut yang kontroversial karena melakukan aksi- aksi
"penertiban" (sweeping) terhadap kegiatan-kegiatan yang dianggap
maksiat atau bertentangan dengan syariat Islam terutama pada masa Ramadan dan
seringkali berujung pada kekerasan. Organisasi ini terkenal dan kontroversial
karena aksi-aksinya sejak tahun 1998. Rangkaian aksi yang berujung pada
kekerasan sering diperlihatkan dalam media massa.
Pada tanggal 17
Agustus 1998, FPI dideklarasikan (atau 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman
Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah
Habaib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dan disaksikan ratusan santri yang
berasal dari daerah Jabotabek. Pendirian organisasi ini hanya empat bulan
setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, karena pada saat pemerintahan
orde baru presiden tidak mentoleransi tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun.
FPI pun berdiri dengan tujuan untuk menegakkan hukum Islam di negara sekuler.
Organisasi ini
dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam
menegakkan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan. Latar
belakang pendirian FPI sebagaimana diklaim oleh organisasi tersebut antara
lain: Adanya penderitaan panjang ummat Islam di Indonesia karena lemahnya
kontrol sosial penguasa sipil maupun militer akibat banyaknya pelanggaran HAM
yang dilakukan oleh oknum penguasa. Adanya kemungkaran dan kemaksiatan yang
semakin merajalela di seluruh sektor kehidupan. Adanya kewajiban untuk menjaga
dan mempertahankan harkat dan martabat Islam serta ummat Islam.
Banyak juga
aksi-aksi simpatik FPI yang patut diapresiasi contohnya Pengiriman relawan
bencana Tsunami, tapi mungkin aksi kekerasan yang dilakukan lebih banyak dan
lebih kelihatan maka ini yang memicu aksi penolakan terhadap FPI.
5.
Piagam
Jakarta
Piagam Jakarta
adalah saksi nyata dalam terbentuknya negara Indonesia. Saksi nyata inilah yang
membawa para pejuang menuju kegemilangan merdeka. Piagam Jakarta ini hanyalah
segelintir kecil dalam bentuk pengorbanan dan perjuangan para founding fathers
negara Indonesia. Bentuk piagam jakarta ini bisa dikatakan sebagai saksi bisu
bahkan naskah sejarah yang tersimpan dan patut untuk diangkat dan di teliti
bagaimana proses terbentuknya naskah ini sehingga menuju kearah pencerahan.
Mr. Muh. Yamin
mengatakan bahwa piagam jakarta di tandatangani di gedung pegangsaan timur 56,
tempat Bung Karno waktu itu berdiam, oleh 9 orang pemimpin. Mr. Muh. Yamin
menjelaskan bahwa piagam jakarta itu semula bertujuan mempersatukan aliran
politik dan agama, bukan bagian dari konstitusi dan pada mulanya secarik kertas
bersejarah yang tersebar secara illegal, karena di rumuskan oleh aliran illegal
dan aliran terbuka, walaupun kemudian merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan
konstitusi (Kohar Hari Sumarno.1984 : 47-48).
Pembentukan
piagam jakarta yang memanas ini berawal dari sebuah keinginan para tokoh untuk
menyelesaikan sebuah dasar negara, kemudian menghasilkan sebuah panitia kecil
yang dibentuk pada tanggal 10 juli 1945 yang beranggotakan 9 orang. Hal ini berlanjut hingga tanggal 16
juli 1945. Meski awalnya persidangan ini
sejak tanggal 29 mei sampai tanggal 1 juni 1945 (Kohar Hari Sumarno.
1984 : 48-58).
Naskah piagam
jakarta hampir seluruhnya sama dengan pembukaan Undang-Undang 1945. Namun Piagam
Jakarta bukan bagian daripada Konstitusi 1945, bahwa ini adalah suatu naskah
politik yang pada mulanya selembar kertas bersejarah yang tersebar secara
illegal (perkataan Muhammad Yamin dalam buku yang berjudul, “Manusia Indonesia,
Manusia Pancasila” halaman 47).
Dalam
penghapusan tujuh kata dalam piagam jakarta menimbulkan permasalahan yang
begitu rumit, yang menyebabkan salah satu tokoh muhammadiyah belum menerimanya.
Untuk meluluhkan pendirian Ki Bagus, Soekarno kemudian mengirim utusan bernama
Teuku Muhammad Hassan dan KH Wahid Hasyim agar bisa melobi Ki Bagus. Namun,
keduanya tak mampu meluluhkan pendirian tokoh senior di Muhammadiyah ketika
itu. Akhirnya, dipilihlah Kasman Singodimedjo yang juga orang Muhammadiyah,
untuk melakukan pendekatan secara personal, sesama anggota Muhammadiyah, untuk
melunakkan sikap dan pendirian Ki Bagus Hadikusumo.
Dalam memorinya
yang berjudul ”Hidup Itu Berjuang“, Kasman menceritakan bahwa ia mendatangi Ki
Bagus dan berkomunikasi dengan bahasa Jawa halus (kromo inggil). Kepada Ki
Bagus, Kasman membujuk dengan mengatakan,“Kiai, kemarin proklamasi kemerdekaan
Indonesia telah terjadi. Hari ini harus cepat-cepat ditetapkan Undang-Undang
Dasar sebagai dasar kita bernegara, dan masih harus ditetapkan siapa presiden
dan lain sebagainya untuk melancarkan perputaran roda pemerintahan. Kalau
bangsa Indonesia, terutama pemimpin-pemimpinnya cekcok, lantas bagaimana?!
Kiai, sekarang
ini bangsa Indonesia kejepit di antara yang tongol-tongol dan yang
tingil-tingil. Yang tongol-tongol ialah
balatentara Dai Nippon yang masih berada di bumi Indonesia dengan persenjataan
modern. Adapun yang tingil-tingil (yang mau masuk kembali ke Indonesia, pen)
adalah sekutu termasuk di dalamnya Belanda, yaitu dengan persenjataan yang
modern juga. Jika kita cekcok, kita pasti akan konyol.
Kiai, di dalam
rancangan Undang-Undang Dasar yang sedang kita musyawarahkan hari ini tercantum
satu pasal yang menyatakan bahwa 6 bulan lagi nanti kita dapat adakan Majelis
Permusyawaratan Rakyat, justru untuk membuat Undang-Undang Dasar yang sempurna.
Rancangan yang sekarang ini adalah
rancangan Undang-Undang Dasar darurat. Belum ada waktu untuk membikin
yang sempurna atau memuaskan semua pihak, apalagi di dalam kondisi kejepit!
Kiai, tidakkah
bijaksana jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara
mengalah, yakni menghapus tujuh kata termaksud demi kemenangan cita-cita kita
bersama, yakni tercapainya Indonesia
Merdeka sebagai negara yang berdaulat, adil, makmur, tenang tenteram,
diridhai Allah SWT.”
Kasman juga
menjelaskan perubahan yang diusulkan oleh Mohammad Hatta, bahwa kata
”Ketuhanan” ditambah dengan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. KH A Wahid Hasyim dan Teuku Muhammad Hassan
yang ikut dalam lobi itu menganggap Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah
Subhanahu wa Ta’ala, bukan yang lainnya. Kasman menjelaskan, Ketuhanan Yang
Maha Esa menentukan arti Ketuhanan dalam Pancasila. ”Sekali lagi bukan
Ketuhanan sembarang Ketuhanan, tetapi yang dikenal Pancasila adalah Ketuhanan
Yang Maha Esa,” kata Kasman meyakinkan Ki Bagus.
Kasman juga
menjelaskan kepada Ki Bagus soal janji Soekarno yang mengatakan bahwa enam
bulan lagi akan ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membuat
undang-undang yang sempurna. Di sanalah nanti kelompok Islam bisa kembali mengajukan
gagasan-gagasan Islam. Karena Soekarno ketika itu mengatakan, bahwa perubahan
ini adalah Undang-Undang Dasar sementara, Undang-undang Dasar kilat. “Nanti
kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu
akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dapat membuat
Undang-Undang yang lebih lengkap dan sempurna,” kata Soekarno.
”Hanya dengan
kepastian dan jaminan enam bulan lagi sesudah Agustus 1945 itu akan dibentuk
sebuah Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Majelis pembuat Undang-Undang Dasar
Negara guna memasukkan materi Islam itu ke dalam undang-undang dasar yang
tetap, maka bersabarlah Ki Bagus Hadikusumo itu untuk menanti,” kenang Kasman
dalam memorinya.
Selain soal
jaminan di atas, tokoh-tokoh Islam juga dihadapkan pada suatu situasi terjepit
dan sulit, dimana kalangan sekular selalu mengatakan bahwa kemerdekaan yang
sudah diproklamasikan membutuhkan persatuan yang kokoh. Inilah yang disebut
Kasman dalam memorinya bahwa kalangan sekular pintar memanfaatkan momen
psikologis, dimana bangsa ini butuh persatuan, sehingga segala yang berpotensi
memicu perpecahan harus diminimalisir. Dan yang perlu dicatat, tokoh-tokoh
Islam yang dari awal menginginkan negeri ini merdeka dan bersatu, saat itu
begitu legowo untuk tidak memaksakan kehendaknya mempertahankan tujuh kata
tersebut, meskipun begitu pahit rasanya hingga saat ini. Sementara kalangan
sekular-Kristen yang minoritas selalu membuat move politik yang memaksakan
kehendak mereka.
6.
Pemberontakan
petani banten
Pemberontakan
petani Banten merupakan suatu reaksi terhadap kolonialisme Barat di Banten
sendiri. Sekitar tahun 1888 terjadi pemberontakan di daerah Anyer ujung Barat
Laut Pulau Jawa. Latar belakang pemberontakan didasarkan pada berbagai aspek.
Aspek
sosial-ekonomi masyarakat Banten pada saat itu merupakan bermata pencaharian
pertanian. Dari sanalah muncul adanya patron and clien antara pemilik tanah dan
penggarap tanah. Dengan datangnya pemerintaha kolonial Belanda, maka terjadi
penguasaan atas tanah dan penerapan sistem pajak berupa penghasilan. Pajak yang
harus diberikan merupakan seperlima penghasilan yang diserahkan. Maka memunculkan
pemberontakan antara rakyat dan pemerintahan.
Perkembangan
politik Banten pada saat itu merupakan mayoritas bersifat ketradisionalan.
Golongan tradisional yang hampir mendominasi masyarakat banten. Sultanlah yang
menjadi penguasa dan rakyat harus tunduk kepada penguasanya. Ketika Belanda
datang, kekuasaan sultan menjadi boneka-boneka Belanda yang nantinya digunakan
untuk memeras rakyat. Pamong praja di bentuk oleh belanda. Dari sanalah terjadi
ketegangan karena sistem baru itu merugikan rakyat.
Seperti halnya
daerah lain, kebangkitan agama terjadi di Banten. Sebagai respon terhadap
westernisasi. Kebangkitan ini dipimpin oleh seorang haji yang nantinya
sekaligus memimpin pemberontakan yang karismatik.
Keresahan
sosial yang terjadi di Banten memiliki peranan dalam terjadinya pemberontakan.
Faktor-faktor yang ikut menyebabkan terjadinya pergolakan pergolakan dan
keresahan sosial adalah kompleks dan beraneka ragam seperti disintegrasi
tatanan tradisional dan proses yang menyertainya, yakni semakin memburuknya
sistem politik, dan tumbuhnya kebencian religious terhadap penguasa penguasa
asing, sangat menonjol dalam banyak pemberontakan di Banten. Ditambah lagi
adanya pamong praja yang menghasut masyarakat karena mereka kecewa terhadap
pemerintahan kolonial. Hal ini memunculkan terjadinya permusuhan dengan pihak
pamong praja.
Pemberontakan petani banten merupakan suatu
pemberontakan secara terencana dan tersusun secara tertutup. Peristiwa ledakan
di Cilegon menjadi bukti aktivitas mereka, dan yang seorang hajilah yang
menjadi peranan penting didalamnya. Salah satu diantara haji-haji tersebut
adalah Haji Abdul Karim. Setelah Haji Abdul Karim kemudian muncullah Kiayi Haji
Tubagus Ismail yang menggiatkan kembali pemberontakan.
Kematangan
pemberontakan terjadi setelah banyak mencari pengikut, yaitu pengikut haji
Marjuki, haji Wasid dll. Kegiatan-kegiatan persiapan pemberontakan selama tiga
bulan terakhir tahun 1887 dan pertengahan pertama tahun 1888, ditandai oleh
factor-faktor sebagai berikut : latihan pencak silat, pengumpulan dan pembuatan
senjata, dan propaganda di luar banten dilanjutkan. Kegiatan-kegiatan lain
diteruskan seperti menghasut khotbah tentang ramalan-ramalan dan ajaran tentang
perang sabil, dan mrndorong mereka untuk
memakai jimat dan ikut dalam pertemuan-pertemuan keagamaan. Kegiatan-kegiatan
gerakan benar-benar ditingkatkan, dan salah satu buktinya yang nyata adalah
seringnya di adakan pertemuan oleh
pemimpin-pemimpin pemberontak hamper setiap minggu.
Pemberontakan
ini terjadi pada tanggal 9 Juli tahun 1888. Mereka melakukan pemberontakan di
daerah Cilegon dengan maksud untuk
membunuh pejabat-pejabat yang termasuk dalam birokrasi kolonial. Mereka tidak
peduli meskipun harus membunuh pribumi bila para pribumi itu bekerja pada
Koloni Belanda. Adapun mereka tidak membunuh seseorang bila orang itu
mengucapkan kalimat syahadat. Serangan yang dilaksanakan kaum pemberontak pada
tanggal 9 Julia ini merengut hampir semua pejabat terkemuka di Cilegon. Seperti
Dumas yang merupakan juru tulis pada pengadilan distrik menjadi korban pertama
pada pemberontakan ini.Mereka menyerang rumah-rumah pejabat kolonial dan
membakar habis rumah serta arsip arsip penting pemerintahan kolonial.
Kekalahan yang
terjadi di Toyomerto menjadi titik awal kehancuran pemberontakan ini. pasukan
mereka tercerai berai sehingga pasukam militer Belanda memenangkan pertempuran.
Satu persatu pemimpin pemberontakan wafat dan yang masih hidup ditawan dan
sebagian dihukum mati. Namun setelah berakhirnya pemberontakan yaitu pada tahun
1889 muncul gerakan pemberontakan baru yang dipimpin oleh Haji Ahmad namun desas
desus itu sudah diketahui oleh pemerintah kolonial dan dapat diredam dengan
mudah.
7.
Gerakan
petani di luar Jawa
Selain gerakan
petani di Pulau jawa, khususnya di Banten, ternyata ada gerakan petani di Luar
Jawa, yaitu Pulau Sumatera. Ya, khususnya daerah Sumatera Tengah dulunya, dan
sekarang itu bisa disebut sebagai Sumatera barat. Karena Sumatera Barat masih
masuk kedalam bagian sumatera tengah. Dan pada tahun 60-an Sumatera barat ini
masih menjadi bagian Sumatera tengah.
Daerah sumatera
barat memiliki dataran yang tinggi dan luas wilayahnya sampai Swedia, wilayah
sumatera barat lebih condong pada perairan daripada dataran, oleh karena itu di
sini banyak sekali sawah basah.
Pada tahun
1513-1515 wilayah sumatera barat khususnya pariaman merupakan bagian terpenting
dan menjadi salah satu kota pelabuhan penting di pantai barat sumatera. Pedagang
India, Eropa, dan Arab datang untuk berdagang emas, lada dan berbagai hasil
perkebunan lainnya. Namun pada awal abad ke 17 kawasan ini sudah di kuasai oleh
kesultanan Aceh.
Dengan adanya
kedatangan VOC, wilayah ini terbebas dari kedaulatan kesultanan Aceh, karena
VOC berhasil mengusir pengaruh kesultanan Aceh pada tahun 1668, dan pertanian
di wilayah ini berkembang. Akan tetapi para petani merasa menderita, karena
seluruh hasil panen mereka dikuasai oleh VOC.
Dengan adanya
kedatangan Belanda, dunia mengetahui bahwa di pulau sumatera ada wilayah
Pariaman yang lebih maju. Sedangkan dari segi ekonomi dalam bidang pertanian dan
berpenghasilan yang tinggi, bahkan dalam segi politik yang berpegang pada 3
aspek diantaranya gold, glory dan gospel.
Dengan kedatangan
belanda, terdapat kerugian dan keuntungan yang didapat oleh wilayah tersebut.
Diantaranya wilayah tersebut mengetahui adanya perkembangan teknologi dengan
pembangunan kereta api, pembangunan jalan, pelabuhan, dan lain sebagainya. Kerugiannya
yaitu parapetani merasa dirugikan karena merusak perdagangan dan kebudayaan.
Seperti petani merasa dirugikan dengan sistem perdagangan belanda yang masuk
dan menguasai daerah tersebut. Misalnya mengekspor emas ke belanda hanya
mencapai 2 dollar, sedangkan ke daerah atau negara lain seperti cina, eropa,
dan arab mencapai 5 dollar. Dan seluruh hasil pertaniannya di kuasai oleh
Belanda.
Dalam hal ini
menimbulkan adanya pemberontakan dari petani. Karena para petani merasa
tersiksa dengan kedatangan dan sistem belanda yang dijalankan di wilayah
tersebut. Bentuk pemberontakannya seperti perang paderi, dalam hal ini ulama
sangat berperan penting, seperti Imam Bonjol, al-Badarsyah, dan lain
sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
Anshari, Saifuddin Endang. Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Jakarta :
CV. Rajawali. 1986.
Dhofier, Zamakhsyari, 1982. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.
Enung
Rukiat. 2006. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung: Pustaka
Setia.
Hasbullah.2001.Sejarah
Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hasil
diskusi
http//www.pendidikan
nu.com
http://www.perkuliahan.com/sejarah-pondok-pesantren-di-indonesia/#ixzz2g93rl2Nh
Kamal
Pasha, mustafa. Yusuf, Chusnan. dan Sholeh, A. Rosyad. 1970. Muhammadiyah
Sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta : Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Mahmud Yunus. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.
Jakarta Pusat: Mutiara Sumber Widya.
Mansur.Junaedi,Mahfud.2005.Rekonstrksi Sejarah Pendidikan Islam
di Indonesia. Jakarta: Departemen Agama.
Priggodigdo, 1980. Sejarah Pergerakan Rakyat
Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.
(saif al battar/arrahmah.com)
suhartono. 1994. Sejarah
Pergerakan Nasional dari Budi Utomo Sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sumarno, Hari Kohar. Manusia Indonesia, Manusia Pancasila. Jakarta :
Ghalia Indonesia. 1984.
Tuanaya, A. Malik M. Thaha dkk. 2007. Modernisasi Pesantren.
Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
just share!