Selasa, 21 Januari 2014

Dinasti Ayyubiyah

DINASTI AYYUBIYAH
Makalah ini Di Susun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sejarah Islam Periode Pertengahan
Dosen Pembimbing     : Dr. Hj. Siti Maryam, M.Ag

Di Susun Oleh :
Sri Windari                              (12120004)
Herlinda Rahmawati               (12120006)
Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Ketika kita membaca tentang sejarah islam, maka kita akan menemukan tentang dinasti-dinasti islam yang berperan dalam pembentukan suatu peradaban islam baik pada masa klasik maupun pertengahan. Dari  awal dinasti pertama muncul yaitu dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyah, Ayyubiyah, hingga Turki Utsmani dinasti terakhir islam. Setiap dinasti–dinasti tesebut telah memberikan suatu andil yang sangat berarti, memberikan peran penting demi tersambungnya suatu peradaban islam, seperti dalam bidang pendidikan, politik, kesenian, kebudayaan, dan bangunan.
Salah satu yang akan di bahas pada makalah ini adalah dinasti Ayyubiyah mulai dari sebab musabab adanya, berdirinya, perkembangannya, para pemimpin yang berkuasa pada saat itu, berbagai prestasi yang telah diraih, perjuangannya, sebab-sebab kemajuan, kemunduran hingga kehancurannya.
Di harapkan setelah membaca makalah, pembaca dapat mengetahui tentang sejarah dan peran andil dinasti Ayyubiyah terhadap islam, serta dapat mengambil ibrah/pelajaran dari apa yang telah terjadi pada Dinasti Ayyubiyah untuk masa depan yang lebih baik.

2.      Rumusan Masalah
-          Berdirinya Dinasti Ayyubiyah
-          Tokoh-tokoh dan penguasa Dinasti Ayyubiyah
-          kemunduran Dinasti Ayyubiyah
-          Hasil-Hasil kebudayaan Masa Dinasti Ayyubiyah




BAB II
PEMBAHASAN
1.      Dinasti Ayyubiyah
A.    Sejarah Berdirinya Dinasti Ayyubiyah
            Ayyubiyah atau Dinasti Ayyubiyah adalah dinasti muslim dari bangsa Kurdi yang menguasai Mesir, Suriah, Yaman (kecuali pegunungan Utara), Diyar Bakr, Makkah, Hijaz, dan Irak Utara pada abad ke-12 dan 13. Dinasti Ayubiyyah didirikan oleh Salahuddin Al-Ayubbi  yang bersama  Shirkuh menaklukan Mesir untuk Raja  Zengiyyah Nuruddin dari Damaskus pada 1169 M.
            Nama ini berasal dari ayah Salahuddin, Najm ad-Din Ayyub. Pada tahun 1171M, Salahuddin menggulingkan Khalifah Fatimiyyah terakhir. Ketika Nur ad-Din meninggal pada 1174M, Salahuddin menyatakan perang terhadap anak lelaki muda Nuruddin, As-Salih Ismail, dan menguasai Damaskus. Ismail melarikan diri ke Aleppo, dimana ia terus berjuang melawan Salahuddin hingga terbunuh pada 1181M. Setelah itu, Salahuddin mengambil alih kawasan pedalaman hingga seluruh Suriah, dan menakluki Jazirah di Irak Utara. Pencapaian terbesarnya adalah mengalahkan tentara salib dalam Pertempuran Hattin dan penaklukan Baitulmuqaddis pada 1187M. Salahuddin meninggal pada 1193M setelah menandatangani perjanjian dengan Richard I dari Inggris yang memberi kawasan pesisir dari Ashkelon hingga Antiokhia kepada tentara salib.

B.     Tokoh-tokoh dan penguasa dinasti ayyubiyah
-          Salahuddin Al Ayubi
Di masa pemerintahan Salahuddin, ia membina kekuatan militer yang tangguh dan perekonomian yang berkerja sama dengan penguasa muslim di kawasan lain. Ia juga membangun benteng kota sebagai benteng pertahanan di Kairo dan bukit Mukattam. Pasukannya juga diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki dan Afrika. Disamping digalakan perdagangan dengan kota-kota di laut tengah, lautan Hindia dan menyempurnakan sistem perpajakan. Atas dasar inilah, ia melancarkan gerakan ofensif guna merebut Al-Quds (Yerusalem) dari tangan tentara Salib yang dipimpin oleh Guy de Lusignan di Hittin, dan menguasai Yerusalem pada tahun 1187 M. Inipun tetap tidak merubah kedudukan Salahuddin, sampai akhirnya Richard membuat perjanjian genjetan senjata yang di manfaatkannya untuk menguasai kota Acre (Bosworth, 1980 : 86-87).
Saladin merupakan pemimpin bangsa Arab yang tidak tertandingi negara-negara yang terbentang dari pegunungan Kurdistan sampai ke padang pasir Libiyan. Raja Georgia, Armenia, Sultan Koniya, dan kaisar Constantinipel menuntut penggabungan. Peperangan-peperangan panjang dan ketaatannya yang longgar terhadap kepercayaannya sangat berpengaruh dalam kesehatannya, pada tahun 1199 M dia meninggal dunia di Damaskus, kira-kira 6 bulan setelah perdamaian Ramleh (Badri Yatim, 2007 : 288).

-           Adil
Saladin digantikan oleh saudaranya, Adil. Orang-orang salib sekarang menyadari bahwa Mesir merupakan bagian yang sangat penting sekali dari dari negara besar Arab dan bahwa penduduknya pasti mudah menundukan Paletina ketangan mereka (Badri Yatim, 2007 :288).
Maka dari itu Raja Palestina Jean di Brienne, memupuk pasukan untuk menyerang dan mengambil salah satu daerah yang di kuasai islam yaitu Daimeta, pasukan Ayyubiyah mengalami kekalahan meski telah berjuang dengan keras, serbuan yang ganas dari orang-orang Salib membuat pasukan islam dipaksa untuk menyerah, kejadian ini terjadi pada tahun 1218 M. Namun walaupun demikian Sutan Adil telah berhasil mengkonsolidasikan negara besar yang di wariskan oleh Saladin padanya. Semenjak remaja ia telah menghabiskan masanya untuk menjabat di pemerintahan menjadi Gubernur seperti di Damascus, Edessa, Haran, Mayyafariqin dan Yaman. Ia meninggal dunia pada tahun 1210 M karena sakit.

-          Kamil
Setelah Sultan Adil meninggal, ia mewariskan pemerintahannya pada anaknya Al-Kamil. Sultan Ayyubiyah yang baru ini memiliki banyak sifat-sifat yang sama dengan ayahnya. Dia adalah seorang perajurit pemberani dan gagah perkasa juga diplomat berbakat.Tindakan pertama yang diambil oleh Al-Kamil saat pemerintahannya adalah merebut kembali Daimeta dari orang-orang salib. Daimeta pun dapat di rebut dengan hasil perjanjian selama 8 tahun dengan orang-orang salib harus pergi dari daerah Mesir.
Di bawah pemerintahan Kamil Mesir mengalami kemajuan pesat. Dia mengembangkan sistem irigasi, memperluas terusan-terusan dan mendirikan tanggul-tanggul untuk meyakinkan keselamatan para pelancong. Dia mendirikan benteng di Kairo dan lembaga-lembaga pendidikan seperti Darul Hadits atau sekolah tinggi Kamiliyah (Kamiliyah college). Ibnu Khlallikan menggambarkan tentang dia, ”Al Kamil mencintai ilmu pengetahuan masyarakat sarjana, dia adalah seorang muslim bijaksana, soleh dan merupakan pelindung besar bagi para sarjana”(Badri Yatim, 2007 : 292).

-          Adil  2, Salib Ayyub dan Shajar al-Durr
Kamil meninggal dunia pada tahun 635 H/1238 M. Pemimpin-pemimpin Ayyubiyah Mesir memproklamirkan anaknya, Abu bakar sebagai Sultan Ayyubiyah dan memberinya galar Adil 2. Saudaranya Salih Ayyub, yang ayahnya mengirimnya ke benteng Kiva di sebelah barat sungai Tigris menolak pemerintahannya dan berjalan menuju Mesir. Nasir, penguasa al-Karak, menghukumnya dalam penjara kurungan, tetapi segera membebaskannya. Dia membuat persekutuan dengan Salih dan Syria menjadi daerah kekuasaan Mesir (Badri Yatim, 2007 : 292).
Masa pemerintahan Adil 2 hanya bertahan tidak lebih dari 3 tahun. Pemerintahannya digulingkan oleh saudaranya sendiri Salih Ayyub, dengan perlawanan dari budak-budaknya terhadap Adil 2 akhirnya Salih Ayyub diproklamirkan menjadi Sultan Mesir pada tahun 637 H/1240 M.
Selama pemerintahan Salih Ayyub, raja perancis banyak mengirimkan ekspedisi perang terhadap Mesir, Salih Ayyub yang saat itu memiliki para perajurit mamluk (budak belian) yang terlatih berhasil mengalahkan secara total pasukan Perancis ini, meski saat itu sultan Salih Ayyub sedang mengalami sakit. Saat itu Sultan Salih Ayyub meninggal dan istrinya Shajar al-Durr menyenbunyikan kematian suaminya ini agar semangat umat muslim tidak turun dan tergoyahkan. Shajar al-Durr memerintah negara dan mengatur permasalahan-permasalahan atas nama “pemimpin yamg sakit”.
Ketika diketahui Sultan Salih Ayyub meninggal, puteranya Turansyah ingin menggantikannya, namun putera mahkota Turansyah mati dibunuh saat berenang oleh para budak Mamluk dan Shajar al-Durr diproklamasikan menjadi Sultan Mesir. Karena saat itu tidak boleh ada pemimpin perempuan, maka panglima tertinggi Mesir yang berasal dari Mamluk menikahi Shajarr dan menjadi Sultan Dinasti Ayyubiyah pada tahun 648 H/1250M.
C.    Kemunduran Dan Kehancuran Dinasti Ayyubiyah
Setelah al-Kamil meninggal pada tahun 635 H/1238 M, Dinasti Ayyubiyah terkoyak oleh pertentangan-pertentangan internal. Serangan salib ke-6 dapat diatasi, dan pemimpinnya, Raja Perancis St Louis, ditangkap, namun segera setelah meninggalnya Ash-Shilah, pasukan budak Bahri Turki merebut kekuasaan di Mesir dan menjadikan pemimpin mereka, Aybak, mula-mula sebagai Atabeg dan kemudian sebagai Sultan pada tahun 648 H/1250 M. Pada tahun 612 H/ 1215 M Al-Adil mengirimkan cucunya yang masih muda, Al-Mas’ud Salahuddin, bersama seorang Atabeg untuk memerintah Yaman, tetapi Ayyubiyah tidak sanggup berbuat apa-apa disana, dan wilayah itu beralih ke tangan bekas abdi mereka, Rasulliyah Turki (Bosworth, 1980 : 86-87).
Keruntuhan Ayyubiyah ini terjadi di dua tempat, di wilayah barat Ayyubiyah berakhir oleh serangan Mamluk, sedangkan di Syiria dihancurkan oleh pasukan Mongol. Dengan demikian berakhirlah riwayat Ayyubiyah oleh dinasti Mamluk. Dinasti yang mampu mempertahankan pusat kekuasaan dari serangan bangsa Mongol(www.sejarahislam.com).

D.    Hasil-Hasil Kebudayaan Islam Dinasti Ayyubiyah

Dinasti Ayyubiyah mencapai kemajuan yang gemilang dan mmempunyai beberapa peninggalan bersejarah. Kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang, diantaranya adalah:
-          Bidang Arsitektur dan Pendidikan
Penguasa Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Ini di tandai dengan dibangunnya Madrasah Al-Saubiyyah pada tahun 1239 M sebagai pusat pengajaran empat Mazhab hukum dalam sebuah lembaga Madrasah. Dibangunnya Dar al Hadist Al-Kamillah juga dibangun (1222 M) untuk mengajarkan pokok-pokok hukum yang umum terdapat diberbagai hukum Sunni. Sedangkan dalam bidang Arsitektur dapat dilihat pada monumen Bangsa Arab, bangunan masjid di Beirut yang mirip gereja, serta istana-istana yang dibangun menyerupai gereja.
-          Bidang Filsafat dan Keilmuan
Buku konkritnya adalah Adelast of Bath yang telah diterjemahkan, karya-karya orang Arab tentang Astronomi dan Geometri. Penerjemahan bidang Kedokteran. Di bidang Kedokteran ini telah didirikan sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat   pikiran.

-          Bidang Industri
Kemajuan di bidang ini dibuktikan dengan dibuatnya kincir oleh seorang Syiria yang lebih canggih dibandingkan orang Barat. Terdapat pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas.
-          Bidang perdagangan
Bidang ini membawa pengaruh bagi Eropa dan negara-negara yang dikuasai Ayyubiyah. Di Eropa terdapat perdagangan agiriculture dan industri. Hal ini menimbulkan perdagangan internasional melalui jalur laut, sejak saat itu dunia ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank, termasuk  letter of credit (LC),bahkan ketika itu sudah ada uang dari emas.
-          Bidang Militer
Selain memiliki alat-alat perang seperti kuda, pedang, panah dan sebagainya, ia juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan. Disamping itu, adanya perang Salib telah membawa dampak positif, keuntungan di bidang industri, perdagangan, dan intelektual, misalnya dengan adanya irigasi (www.sejarahislam.com).

















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan singkat tersebut di atas kamidapat mengambil kesimpulkan sebagai berikut :
Dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh seorang Kuri yang beraliran Sunni, Salahuddin Al-Ayubi, merupakan dinasti yang meruntuhkan kerajaan  Fathimiyyah di Mesir yang beraliran Syiah. Perkembangan pada berbagai bidang di masa dinasti ini sungguh sangat hebat, mulai dari industri, pertanian, perdagangan,ilmu pengetahuan, arsitektur, pendidikan,militer, dan filsafat. Keberhasilannya yang gemilang adalah ketika dapat memukul mundur pasukan Salib dan mempersatukan kembali umat islam dalam satu tujuan yang sama.
Namun kondisi seperti ini tidak berlangsuung selamanya ketika Salahuddin meninggal konflik mulai muncul, terutama ketika masa pemerintahan sultan Al Kamil akan habis, perselisihan internal ditambah lagi dengan pemberontakan para budak Mamalik yang ingin menggulingkan kekuasaan Ayyubiyah, semua ini menyebabkan runtuhnya Ayyubiyah di Mesir. Sedangkan di Syiria Ayyubiyah ditaklukan oleh tentara Mongol.

DAFTAR PUSTAKA

Bosworth,C.E. 1980. Dinasti-Dinasti islam. Terj. Bandung: Mizan
Yatim, Badri (Ed). 2007. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press






2 komentar:

just share!